Langsung ke konten utama

Modul Al-Quran hadits

MODUL “ 1
KEWAJIBAN BERDAKWAH

PENDAHULUAN
Secara umum setiap muslim telah memahami bahwa;Allah Swt telah memerintahkan kepada Nabi Muhammad  Saw,agar menyampaikan dakwahnya kepada keluarga atau kerabat terdekat seperti istrinya, anak-anaknya dan perintah  bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada orang-orang yang mengikuti ajakannya dan memberi peringatan dan ancaman akan adzab yang pedih kepada yang mendurhakai dakwahnya. Isi dakwahnya untuk meyakini dan mempercayai bahwa tiada Tuhan selain Allah Tuhan yang maha esa.
Apabila dilihat dari awal kemunculanya, Dakwah merupakan misi utama yang diemban Rasululullah, pada masa awal aktifitas dakwahnya, Rasululullah menfokuskan kegiatan dakwah untuk keluarga atau kerabat dekatnya, kemudian secara berangsur-angsur menyeru masyarakat sekitarnya dan kemudian kepada manusia seluruhnya. Mula-mula dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kemudian setelah pengikutnya kuat dilakukan secara terang-terangan. Inilah awal perintah Allah kepada Nabi Muhammad  untuk memulai dakwah menyiarkan agama Allah agar manusia mentauhidkan kepada-Nya dan beramal saleh.

STANDAR KOMPETENSI  
1.      Menganalisis ayat-ayat al Qur’an dan al Hadits tentang kewajiban berda’wah.     

KOMPETENSI DASAR
1.1        Menjelaskan dan mengidentifikasi kandungan Al-Qur’an Surah An-Nahl: 125; QS. Asy-Syu’ara: 214-216, QS. Al-Hijr: 94-96, dan hadits tentang kewajiban berda’wah.

TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah menjalani proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat menjelaskan, mengidentifikasi dan mengklasifikasi kandungan al-Qur’an surah An-Nahl: 125; QS. Asy-Syu’ara: 214-216, QS. Al-Hijr: 94-96, dan hadits tentang kewajiban berda’wah

PENGETAHUAN PRASYARAT
Supaya anda dapat memahami secara benar apa yang ada pada Modul 01 “Kewajiban Berdakwah”, maka anda disarankan untuk membaca dan memahami materi sejarah Rasulullah pada masa awal melakukan Dakwah di Makkah dan materi Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

ALOKASI WAKTU: DUA JAM PELAJARAN (2x45 Menit)
PANDUAN  PENGGUNAAN MODUL
1.      Cermati konsep amar ma’ruf nahi munkar  untuk mendalami konsep Berdakwah
2.      Lakukan langkah efektif untuk memahami konsep Kewajiban Berdakwah
3.      Pahami dengan benar dan mendalam setiap konsep dasar pendukung modul,
4.      Ambilah pengalaman yang bermakna secara teliti  yang ada pada modul
5.      Kerjakan tugas dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan anda.
6.      Catatlah semua kesulitan untuk dibahas pada saat kegiatan tatap muka.
7.      Konsultasikan dengan guru, apabila ada kesulitan dalam mengerjakan tugas.
8.      Bacalah referensi lain yang berhubungan dengan materi dalam modul ini.
9.      Diskusikan dengan teman sekelas untuk memperdalam pemahaman anda

KEGIATAN PEMBELAJARAN SATU
Ekplorasi: Telah banyak perjalanan sejarah yang kita dengar bagaimana hebatnya tantangan-tantangan kepada orang-orang yang menyampaikan dakwah bahkan kepada Nabi-Nabi dan Rasul-rasul untuk menunjukkan betapa tidak ratanya jalan yang harus ditempuh. Namun demikian mereka tidak pernah mundur barang setapakpun. Sebab bagi kaum muslimin dakwah adalah suatu tugas suci yang wajib dilaksanakan, tidak perlu cemas dengan adanya tantangan-tantangan tersebut melainkan tetap optimis tidak perlu ada keragu-raguan, sehingga tetap teguh keyakinan, teguh keimanan, dakwah tetap berkumandang cahaya dan syiar Islam sehingga tetap terpancar ke seluruh penjuru dunia.
Elaborasi: Untuk keperluan mensyiarkan Islam, maka setiap ummat Islam memiliki tanggung jawab untuk berdakwah. Agar dakwah yang dijalankan dapat mencapai hasil yang baik, maka dalam berdakwah harus mengedepankan sikap lemah lembut. Tutur kata yang baik, fleksibel, metode yang baik, menggunakan bahasa yang mudah mereka terima sehingga orang yang diseru tertarik, mengikuti ajakan dan senang terhadap yang didakwahkan. Peringatan dengan cara lemah lembut dan bijaksana lebih menyentuh hati dan dapat mengenai sasaran dibanding dengan peringatan yang keras dan kasar. Coba renungkan bagaimana contoh sikap lemah lembut yang mempesona setiap orang dan menjadi kepribadian juru dakwah...?
Konfirmasi: Sadarilah bahwa untuk mempelajari Al-Qur’an hadis, memerlukan kesungguhan dan keikhlasan, karena itu disarankan agar anda benar-benar serius dalam belajar dan ikhlas untuk mendalami kebenaran yang bermanfaat dalam kehidupan dunia akhirat, selanjutnya simaklah baik-baik Diskripsi Materi: Al-Qur’an Surah An-Nahl[16]: 125
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (١٢٥)
a.        Terjemah Ayat: 125: serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

b.      Penjelasan Ayat
Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar banyak menggunakan cara dalam menyampaikan misi dakwah kerasulannya, hal tersebut harus dilakukan karena beragamnya corak masyarakat dari yang awam sampai dengan kaum terpelajar dan juga strata sosial yang berbeda hal tersebut tentunya juga akan dijumpai problem yang berbeda pula. (Depag : 2002, hal 122-125)
Adapun pedoman berdakwah yang dapat dipegangi diantaranya sebagai berikut :
1.      Dakwah lebih banyak berorientasi kepada materi yang diajarkan. Dakwah itu hendaknya ditujukan semata-mata karena Allah dan untuk memperoleh ridha-Nya, bukanlah untuk orang yang berdakwah dan bukan juga untuk golongannya atau kaumnya. Rosulullah diperintahkan berdakwah agar membawa manusia ke jalan Allah dan untuk agama semata.
2.      Dakwah hendaklah dilakukan dengan hikmah. Adapun yang dimaksud dengan "Hikmah" yaitu: hendaklah dakwah berisikan ilmu pengetahuan yang mampu mengungkap faedahnya untuk kepentingan dan kesejahteraan manusia. Islam sangat menghargai kajian-kajian ilmiah, tidak seperti penganut agama sebelum Islam. Ilmuwan sering kali menjadi korban hasil temuannya, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris dan lain-lain, yang bertentangan dengan pendapat gereja.
Untuk itu seorang da'i  harus dapat memilih materi yang sedang dihadapi oleh manusia pada zamannya. Kalau manusia modern sekarang yang dihadapai adalah bagaimana cara mengentaskan dampak negatif dari akibat industrialisasi, kemudian muncul polusi maka ia harus mampu memecahkan kesulitan yang dihadapi umatnya. Industrialisasi maju tetapi pencemaran dapat ditekan sampai titik minimal. Demikian ini tidak gampang, oleh sebab itu dakwah harus disampaikan dengan metode yang tepat dan gaya yang pas, sehingga mereka tertarik dan tidak merasa berat menerima ajakannya, karena adanya dakwah tersebut mampu membuat solusi yang baik. Oleh sebab itu dakwah harus dilakukan oleh orang-orang yang profesional di bidangnya masing-masing
3.      Dakwah hendaklah dilaksanakan dengan lemah lembut, dengan cara yang baik, dan tidak menimbulkan kegelisahan dan ketakutan karena merasa dipaksa. Berhasil atau tidaknya tujuan dakwah sangat banyak dipengaruhih oleh metode atau cara berdakwah. Namun boleh juga diselipkan materi pelajaran yang berisikan adzab-adzab dan hukuman yang diancamkan Tuhan kepada mereka yang sengaja berbuat dosa dan kemunkaran, dengan maksud mereka menghidari perbuatan yang menimbulkan ancaman Tuhan tersebut.
4.      Bila dalam dakwah terjadi perdebatan atau bantahan dengan kaum musrikin atau Ahli Kitab, hendaklah menjawab bantahan mereka dengan bantahan yang baik. Perdebatan yang baik ialah perdebatan yang dapat menghambat timbulnya hal-hal yang negatif seperti sombong, gengsi dan lain sebagainya. Hal ini sangat penting diperhatikan, sebab dengan cara ini orang akan merasa dihargai dan dihormati, sehingga pada diri mereka timbul rasa simpatik yang akhirnya mengikuti ajakan dan seruan para da'i.
5.      Serahkanlah segala usaha dan perjuangan kepada Allah, sebab hanya Dia-lah yang Maha Mengetahui siapa-siapa yang akan diberi petunjuk atau hidayah dan siapa-siapa yang tidak diberinya. Tugas da'i hanyalah menyampikan ajaran agama dan bukan menentukan hasilnya.
6.      Dakwah hendaklah dilaksanakan dengan cara berulang-ulang dan tidak boleh berhenti karena megalami hambatan, gangguan ataupun rintangan.
7.      Pemberian dakwah harus berwibawa jangan sampai ada anggapan bahwa dia sama saja dengan mereka
8.      Pemberian dakwah harus memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan ilmu yang luas, sehingga tidak membosankan bagi pendengarnya.
9.      Pemberi dakwah haurs mempunyai kesehatan fisik dan mental  (DEPAG : 2002, hal 113 - 116)

c.       Kesimpulan Materi Pembelajaran
1.      Ada tiga metode yang digunakan untuk berdakwah yaitu Al-Hikamah, Mauidhah Hasanah dan Mujadalah. Dalam menggunakan metode dakwah, seorang Muballigh harus memperhatikan obyek dakwahnya.
2.      Hendaklah dakwah dilaksanakan semata-mata karena Allah dan mengharap ridha-Nya;Hendaklah dakwah dilakukan dengan hikmah dengan cara baik dan lemah lembut;
3.      Bila terjadi perdebatan, hendaklah dijawab dengan perdebatan yang baik;Berhasil tidaknya usaha dakwah hendaklah dikembalikan kepada Allah. Tugas para da'i hanyalah menyampikan agama Allah, berhasil atau tidak terserah kepada keputusan-Nya.

Memberi  peringatan kepada keluarga dan kerabat dekat menjadi kewajiban setiap muslim, karena itu pahamilah dasar-dasar memberikan peringantan kepada keluarga dan kerabat dekat sebagaimana Diskripsi Materi:  Asy-Syu’ara[26]: 214-216


وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ (٢١٤)وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (٢١٥) فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ (٢١٦)
a.        Terjemah Ayat: 214. dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,215. dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman.216. jika mereka mendurhakaimu Maka Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan";

b.      Penjelasan Ayat
Kata  عَشِيرَة artinya anggota suku yang terdekat, kata tersebut bersal dari  عَاشَرَ yang artinya bergaul. Kata  جَنَاح  arti aslinya adalah sayap. Hal ini menggambarkan perilaku seseorang disamakan dengan burung yang merendahkan sayapnya apabila hendak mendekati lawan jenisnya atau menlindungi anaknya. Kata اتَّبَعَ artinya mengikuti namun menurut mufassir Ibnu Asyur ia menerjemahkan dengan Beriman.
Dalam suatu Hadits dari Abu Hurairah  menyatakan: "Tatkala ayat ini turun, Rosulullah  memanggil orang-orang Quraisy berkumpul di bukit Shafa. Di antara mereka ada yang datang secara langsung dan ada yang mengirimkan wakilnya. Setelah mereka berkumpul, kemudian Rosulullah  berkhotbah: "Wahai kaum Quraisy, selamatkan dirimu dari api neraka, karena sesungguhnya aku tidak bisa memberi madlarrat dan tidak pula memberi manfaat kepadamu, hai Bani Qushai, selamatkan dirimu dari api neraka, karena sesungguhnya aku tidak bisa memberi madlarrat dan tidak pula memberi manfaat kepadamu. Ketahuilah bahwasanya aku hanya dapat menghubungi karibku di dunia ini saja".
Dalam riwayat lain oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Abbas, dijelaskan bahwa setelah Rosulullah menyeru kapada kaumnya itu lalu Abu Lahab, paman beliau berkata:
تَبًّا لَكَ اَلِهذَا دَعَوْتَنَا ؟ نَزَلَ تَبَّتْ يَدَا اَبِى لَهَبٍ
Artinya :"Celakalah engkau wahai Muhammad  hari ini, apakah kami engkau panggil hanya untuk ini? Maka Allah menurunkan ayat : Tabbat yadaa Abii Lahabin Watab"
Selain itu, ayat ini menegaskan bahwa mula-mula dakwah Nabi ditujukan kepada keluarga atau kerabat dekatnya, kemudia secara berangsur-angsur menyeru
masyarakat sekitarnya dan kemudian kepada manusia seluruhnya. Mula-mula dakwah secara sembunyi-sembunyi, kemudian setelah pengikutnya kuat dilakukan secara terang-terangan. Inilah awal perintah Allah kepada Nabi Muhammad  untuk memulai dakwah menyiarkan agama Allah agar manusia mentauhidkan kepada-Nya dan beramal saleh.
Secara gelobal (Ijmali) ketiga ayat di atas menjelaskan kepada kita umat Islam bahwa Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad  saw. agar menyampaikan dakwahnya kepada keluarga atau kerabat terdekat seperti istrinya, anak-anaknya dan perintah  bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada orang-orang yang mengikuti ajakannya dan memberi peringatan dan ancaman akan adzab yang pedih kepada yang mendurhakai dakwahnya. Isi dakwahnya untuk meyakini dan mempercayai bahwa tiada Tuhan selain Allah Tuhan yang maha esa.
Dari segi bahasa (etimologi) kata dakwah  (دَعْوَةٌ) berasal dari bahasa Arab yaitu (دَعَايَدْعُودَعْوَةً) yang berarti ajakan, seruan, panggilan, undangan. Jadi yang dimaksud dengan Ilmu Dakwah ialah : Suatu ilmu pengetahuan yang berisi cara-cara, tuntunan bagaimana seharusnya menarik perhatian manusia untuk mengikuti, menyetujui suatu pendapat tertentu dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Allah Yang Maha Kuasa demi kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Kemudian yang disebut penerangan mempunyai suatu tujuan tertentu, memberikan pengertian terhadap orang lain mengenai sesuatu masalah, sehingga penerangan merupakan bagian dari dakwah.
Selain dari itu ada juga bagian lain dari dakwah misalnya penyiaran. Penyiaran bisa juga dipakai untuk memberikan penjelasan-penjelasan terhadap suatu masalah yang sudah ada pokok permasalahannya, sehingga penjelasannya datang kemudian.Begitu pula tentang pendidikan dan pengajaran, juga menjadi bagian dari salah satu alat berdakwah. (Depag : 2002, hal 113)
Telah banyak perjalanan sejarah yang kita dengar bagaimana hebatnya tantangan-tantangan kepada orang-orang yang menyampaikan dakwah bahkan kepada Nabi-Nabi dan Rasul-rasul untuk menunjukkan betapa tidak ratanya jalan yang harus ditempuh. Namun demikian mereka tidak pernah mundur barang setapakpun. Sebab bagi kaum muslimin dakwah adalah suatu tugas suci yang wajib dilaksanakan, tidak perlu cemas dengan adanya tantangan-tantangan tersebut melainkan tetap optimis tidak perlu ada keragu-raguan, sehingga tetap teguh keyakinan, teguh keimanan, dakwah tetap berkumandang cahaya dan syiar Islam tetap terpancar ke seluruh penjuru dunia.
Pada ayat 215 ini Allah memerintahkah kepada Nabi Muhammad  agar berlaku dan bersikap rendah hati, lemah lembut, memperdulikan orang lain dan tidak sombong kepada orang-orang yang mengikuti seruannya, sehingga hati mereka lebih tertarik dan menyenangi agama yang baru dianut, dapat terjalin hubungan kasih sayang, mencintai dan menolong serta membela sesama mukmin.
Dalam ayat 216 ini Allah SWT. memberikan petunjuk kepada Nabi Muhammad  dalam menjalankan dakwahnya, yaitu apabila kerabat karib, keluarga dekat tidak mengindahkan seruannya, maka katakanlah kepada mereka bahwa engkau tidak bertanggung jawab atas keingkaran dan kedurhakaan meraka, bahwa Allah mengancam dengan adzab-Nya yang sangat keras sebagai balasan terhadap sikap dan perbuatan mereka, karena itu tidak seorang pun yang mampu melepaskan diri dari adzab, kecuali orang-orang beriman dan beramal saleh yang dapat terhindar dari adzab Allah di akhirat nanti.

c.       Kesimpulan Materi
Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1)      Mula-mula Rosulullah melakukan dakwahnya kepada kerabat dan keluarga terdekat, kemudian kerabat yang jauh dan akhirnya kepada seluruh manusia;
2)      Rosulullah  diperintahkan oleh Allah agar bersikap lemah lembut dan berlaku hormat serta rendah hati, mengasihi dan mencintai kepada orang-orang mukmin. Selanjutnya perintah ini juga ditujukan kepada kita ummat Nabi Muhammad
3)      Apabila orang-orang yang diseru mengikuti ajaran Allah tidak menghiraukannya, tidak mengikuti ajakan tersebut dan mendurhakainya, maka beritahukan tentang ancaman berupa adzab Allah yang akan ditimpakan kepada mereka. Tidak ada seorang pun yang terhindar dari adzab-Nya kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh. (Depag : 2002, hal. 125)

Ekplorasi: Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad  saw agar menyampaikan dakwahnya kepada keluarga atau kerabat terdekat seperti istrinya, anak-anaknya dan perintah  bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada orang-orang yang mengikuti ajakannya dan memberi peringatan dan ancaman akan adzab yang pedih kepada yang mendurhakai dakwahnya. Isi dakwahnya untuk meyakini dan mempercayai bahwa tiada Tuhan selain Allah Tuhan yang maha esa........Renungkan...mengapa keluarga dan kerabat dengan menjadi sasaran pertama dan utama kegiatan Dakwah....?
Elaborasi:Setiap orang harus menyadari, betapa pentingnya keluarga itu bagi kehidupan kita, karena keluarga dan kerabat dekat memiliki hubungan bathin yang sangat kuat dalam mendukung segala langkah perbaikan hidup yang dilakukan setiap orang. Inilah rahasia paling utama untuk menjadikan keluarga sebagai sasaran dakwah dimasa awal. Karena itu setiap muslim  memiliki tanggung jawab yang besar untuk membina dan mengembangkan segala potensi yang dimiliki keluarga dan menjadikannya sebagai modal untuk menggerakan aktifitas dakwah pada lingkup yang lebih besar dalam rangka membangun “Qoryah Thoyibah”...apa yang anda banyakan dengan keluarga dan kerabat anda dalam kaitanya dengan peran dakwah....?

Konfirmasi: Mempelajari Al-Qur’an hadis, memerlukan kesungguhan dan keikhlasan, karena itu disarankan agar anda benar-benar serius dalam belajar dan ikhlas untuk mendalami kebenaran yang bermanfaat dalam kehidupan dunia akhirat, simaklah baik-baik Diskripsi Materi:  QS. Al-Hijr[15]: 94-96


فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ (٩٤)إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ (٩٥)الَّذِينَ يَجْعَلُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (٩٦)
a.      Terjemah Ayat
94. Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.95. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu),96. (yaitu) orang-orang yang menganggap adanya Tuhan yang lain di samping Allah; Maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya).

b.      Penjelasan Ayat
Ayat 94 ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad  SAW agar menyampaikan ajaran agama Allah secara terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyi, tantanglah orang musyik itu, jangan memperdulikan apa yang mereka katakan dan janganlah kamu takut kepada mereka.
Sebahagian ahli tafsir mengintepretasikan " وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ " dengan tidak memperdulikan segala tingkah laku orang-orang musyrik yang telah mendustakan, memperolok-olok dan menentang kamu, tindakan mereka yang menghalang-halangimu jangan dijadikan kendala untuk menyiarkan agama. Dia (Allah) menjagamu dari gangguan mereka.
Ayat 95-96 ini menegaskan kepada Nabi Muhammad  dan orang-orang mukmin bahwa Allah akan menjaga dan memelihara Nabi dan pengikutnya dari perilaku orang-orang Musyrik Makkah yang meremehkan, menghina dan memperolok-olok Nabi serta mengotori kesucian Al-Qur'an.
Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa orang-orang musyrik Makkah yang  sangat meremehkan ajaran Al-Qur'an di antaranya adalah Al-walid bin Mughirah, Al-Ash bin Wa'il, Al-Haris bin Qais, Aswad bin Abdul Jaghut dan Aswad bin Muththalib. Dalam sejarah dikenal bahwa penyebab kematian mereka dikarenakan sikap mereka memperolok-olok dan mendustakan ajaran Allah.
Allah mengetahui bahwa Nabi Muhammad  prihatin dan sedih melihat sikap dan tingkah laku orang-orang musyrik Makkah. Untuk mengobati hati yang sakit ini, Nabi memperbanyak tasbih, dzikir, tahmid, takbir, sembahyang dan melakukan ibadah-ibadah lainnya serta menahan hawa nafsu. Sifat Nabi ini hendaklah dijadikan contoh teladan oleh orang-orang mukmin dalam menghadapi segala permasalahan. Serahkanlah segalanya kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi.
Di zaman Rosulullah  belum ada media massa seperti sekarang ini, belum ada media cetak, elektronika, surat kabar, radio, film dan televisi sehingga dakwah hanya dilakukan dengan lisan. Kemudian setelah beliau menerima tuntunan atas pedoman dari Allah dengan datangnya ayat pertama, beliau lalu memberikan dakwahnya kepada istrinya, keluarganya, teman-teman dekat. Mula-mula dengan sembunyi-sembunyi karena khawatir terhadap fitnah kaum Quraisy yang belum mau melepaskan tradisi mereka. Akhirnya dakwah yang diberikan diarahkan untuk memberikan dasar-dasar keyakinan sekaligus membentuk kepribadian masyarakat supaya kuat dan tahan uji dan penuh ketabahan serta kesabaran.
Setelah keyakinan dianggap kuat dengan ikatan kemasyarakatan walaupun masih terbatas, tetapi telah dianggap mampu menerima tantangan. Setelah itu barulah Allah memerintahkan melakukan dakwah secara terang-terangan.
Dengan sikap maju terus pantang mundur disertai dengan keyakinan, sikap bijaksana, tutur bahasa yang baik dan benar di dalam berdakwah serta pemaaf dan lemah lembut, maka Islam mandapat sambutan di mana-mana. Namun demikian walaupun pada awal mulanya Rosulullah  selalu mendapat rintangan, tantangan, hinaan, tetapi hari demi hari pengikut Islam semakin bertambah banyak bahkan persatuan dan kesatuan pengikutnya menjadi kokoh dan kuat, lebih-lebih setelah masuk Islamnya dua pemuda perkasa, Hamzah bin Abdul Muththolib dan Umar bin Khaththab kemenangannya semakin nampak karena pemuda tersebut sangat keras membela agama Islam, menjadi pembela kebenaran dan pemisah antara kebenaran dan kebatilan. Akhirnya syiar Islam semakin menyebar di Semenanjung Arabia. ( DEPAG, 2002, hal. 126-128)




c.       Kesimpulan Materi Pembelajaran
Dari tiga ayat tersebut, secara singkat dapat disimpulkan:
1.      Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad  agar menyampaikan ajaran Allah secara terang-terangan kepada kaum musyrikin Makkah
2.      Allah memerintahkan agar Nabi dan pengikutnya tidak gentar dan takut terhadap sikap dan tingkah laku orang-orang musyrikin Makkah yang selalu memusuhi dan menghina Nabi dan ajaran yang didakwahkannya sebab Allah menjamin akan memelihara dan menjaga Nabi dan pengikutnya dari malapetaka yang menimpa mereka
3.      Allah juga memberikan penjelasan kepada Nabi bahwa pada akhirnya nanti orang-orang musyrik Makkah akan mengetahui akibat-akibat yang akan ditimpakan kepada mereka
4.      Orang-orang yang unggul dan berkualitas akan menjadi pemenang dalam memperebutkan dunia ini. (DEPAG : 2002, hal. 129)

Rasulullah Muhammad Saw, telah banyak memberikan panduan praktis bagaimana tata cara melakukan dakwah, agar dalam mengemban misi dakwah benar-benar efektif dan bernilai ibadah, maka kita harus merujuk contoh Rasulullah Saw, sebagaimana Diskripsi Materi: Hadits Tentang Kewajiban Berda’wah sebagai berikut:


Hadits pertama
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : بَلِّغُوْا عَنِّى وَلَوْ أيَةً وَ حَدِّثُوْا عَنْ بَنِى إِسْرَائِيْلَ وَلاَ حَرَجَ وَ مَنْ كَذَّبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ( رَوَاهُ الْبُخَارِى )
a.      Terjemah Hadits
Dari Abdullah ibnu Amr, Bahwa Nabi SAW bersabda : Sampaikan dariku walaupun satu ayat dan ceritakan tentang kaum bani Israil karena yang demikian itu tiada dosa, Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka bersiaplah tempatnya di Neraka ( HR. Bukhari no. 3202)

b.      Penjelasan Hadits
Hadits di atas menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw memerintahkan untuk menyampaikan apa yang bisa ditangkap dari beliau, Hadits ini tidak mensyaratkan bahwa untuk menyampaikan dakwah harus mempunyai bekal ilmu yang memadahi dulu baru bisa untuk mengajak orang lain, namun dalam berdakwah bisa dilakukan walau pada saat itu baru satu atau dua ayat yang dipahami. Hal demikian dapat dipahami dari ungkapan (وَلَوْ أيَةً  )  Dan dakwah tidak selalu harus berbentuk ceramah, pidato, atau debat, hemat penulis dakwah juga bisa dilakukan dengan memberi contoh yang baik dan istiqomah dari hasil mengkaji ayat-ayat Allah dan Hadits Rasulallah. Sehingga orang lain akan melihat dan akhirnya tertarik dan mengikuti.

c.       Kesimpulan Materi
Dari Hadits di atas, disimpulkan bahwa:
1)      Dilarang menyembunyikan atau tidak menyampaikan ilmu kepada orang lain, atau perintah untuk menyampaikan ilmu meski sesuai pengetahuan yang dimiliki;
2)      Kewajiban dakwah/ meyampaikan kebenaran tidak hanya tidak seorang ulama’ atau orang yang berpengetahuan luas, tetapi siapa saja yang memiliki pengetahuan yang meskipun sedikit;
3)      Larangan mendustakan sesuatu terhadap nabi saw;
4)      Tempat tinggal neraka merupakan konsekwensi orang yang dengan sengaja membuat keduataan terhadap Nabi saw.

Hadits kedua
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلم : مَنْ دَعَا اِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلاجْرِ مِثْلُ اُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ  لا يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا اِلَى الضَّلالَةِ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الاثْمِ مِثْلُ اَثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لا يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ اَثَامِهِمْ شَيْئًا
a.      Terjemah Hadits
Dari Abu Hurairah ra ia berkata : Rosulullah  SAW bersabda : Barang siapa yang hendak mengajak kepada kebaikan maka dia akan memperoleh pahala atas perbuatan baiknya itu serta pahala orang yang mengikuti dan melaksanakan kebaikan dengan tanpa dikurangi sedikit pun. Sebaliknya bagi siapa saja yang mengajak kesesatan atau kemungkaran, maka dia mendapat dosa sebagai balasan atas perbuatannya sendiri (ditambah) dosa sebanyak dosa orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun. (HR Abu Dawud, Ahmad, Nasai, Turmudzi dan Ibnu Majah)

b.      Penjelasan Hadits
Nabi Muhammad saw menjelaskan kepada kita bahwa pahala orang berdakwah itu besar bukan saja pahala yang diberikan Allah atas perbuatan baiknya yang dilakukan sendiri, tetapi juga akan diberikan pahala sebanyak pahala orang-orang yang mengikuti perbuatan baik yang dianjurkan. Pahala ini diberikan oleh Allah hingga hari akhir tanpa dikurangi sedikit pun. Hal ini menunjukkan sifat Rahman dan Rahim-Nya yang dikaruniakan kepada orang-orang yang dikehendaki.
Sebaliknya, orang yang mengerjakan kejahatan dan kemudian dia menganjurkan atau mengajak orang lain untuk melakukan seperti yang dia lakukan, maka orang tersebut mendapatkan dosa atas perbuatan jahat yang dilakukan, maka orang tersebut mendapat dosa atas perbuatan jahat yang dia lakukan dan ditambah dosa sebanyak dosanya orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikit pun sampai hari kiamat.
Ancaman Allah seperti ini sangat wajar sekalipun yang berbuat adalah orang lain, tetapi perbuatan itu terjadi dikarenakan ajakan atau anjuran. Bila tidak diajak atau dianjurkan, sangat mungkin orang lain tidak melakukannya. (DEPAG : 2002, hal 143-144)

Hadits ketiga
عَنْ اَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ صلم قَالَ : يَسِّرُوا وَلا تُعَسِّرُوا بَشِّرُوا وَلا تُنَفِّرُوا (متفق عليه)
a.      Terjemah Hadits
Dari Anas ra. Dari Nabi SAW., beliau bersabda: "Permudahlah dan jangan mempersukar, gembirakanlah dan jangan menakut-nakuti". (H.R. Bukhari-Muslim)

b.      Penjelasan Hadits
Hadits di atas memerintahkan kepada ummat Islam agar dalam menjalankan dakwahnya supaya dilakukan dengan sikap lemah lembut. Tutur kata yang baik, fleksibel, metode yang baik, menggunakan bahasa yang mudah mereka terima sehingga orang yang diseru tertarik, mengikuti ajakan dan senang terhadap yang didakwahkan. Peringatan dengan cara lemah lembut dan bijaksana lebih menyentuh hati dan dapat mengenai sasaran dibanding dengan peringatan yang keras dan kasar.
Janganlah dakwah itu dilakukan dengan kasar, menakut-nakuti, memaksa atau memberi ancaman karena cara-cara dakwah seperti itu tidak menyebabkan orang yang diseru senang dan mendekat tetapi menjauhi, tidak mengikuti ajakan bahkan memusuhi dan bisa menghalang-halangi. Janganlah mengungkit-ungkit kesalahan yang mereka lakukan tanpa disadari atau disengaja.
Prilaku baik dan lemah lembut yang ditampilkan Rosulullah  terhadap ummatnya yang mencaci maki, membenci, memusuhi dan menghina kepada beliau patut kita jadikan suri tauladan. Karena cara dakwah seperti itu dapat mengubah ummat yang jahiliyah menjadi bertauhid, menghargai dan menghormati orang lain. Pada akhirnya mereka disegani, dihormati dan ditakuti oleh musuh.
Kemudian Perintah Allah untuk berdakwah dengan lemah lembut seperti di atas tidak kemudian diartikan kita boleh bersikap masa bodoh terhadap kemungkaran dan kemaksiatan, tetapi perintah tersebut dimaksudkan agar dalam melaksanakan dakwah dijalankan dengan cara yang terbaik. Berdakwah Diperbolehkan menggunakan cara-cara keras dan bahkan memaksa apabila Seorang Da'i mempunyai kemampuan baik Kekuatan Pangkat, Jabatan maupun harta dan ia yakin  hanya dengan metode tersebut kemunkaran dan kemaksiatan dapat terhenti.   (Depag : 2002, hal 134)
Dalam hadits lain, riwayat Muslim disebutkan:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قال : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ (رواه مسلم)
Artinya : Dari Abi Sa’id Al Khudry ra. ia berkata : Aku mendengar Rosulullah saw bersabda : “Siapapun di antara kamu yang melihat kemungkaran hendaklah mengubahnya dengan tangan atau kekuasannya. Apabila tidak mampu dengan cara ini, maka hendaklah menggunakan lisannya, apabila dengan cara itu tidak mampu maka hendaklah dengan hatinya. Demikian itu (cara yang terakhir) adalah termasuk selemah-lemah iman” (HR. Muslim)

c.       Kesimpulan Materi
1.      Hendaknya dakwah dijalankan dengan cara yang baik, lemah lembut dan membuat orang yang diseru tertarik dan menyenangi yang diserukan kepada mereka.
2.      Dakwah tidak boleh dijalankan dengan cara-cara yang kasar, keras, memaksa atau yang membuat orang menjauhi ajakan. Namun apabila dalam keadaan terpaksa, tidak ada jalan lain dan tidak menimbulkan madlarrat, maka cara-cara dakwah seperti ini diperbolehkan sehingga kemasiatan dan kemungkaran dapat dihentikan. (Depag : 2002, hal 135)
3.      Apabila seseorang melakukan perbuatan baik dan mengajak orang lain berbuat kebaikan, maka dia akan memperoleh pahala dua kali lipat. Yaitu pahala atas kebaikan yang diperbuat sendiri dan pahala orang-orang yang mengikuti anjuran. Namun apabila dia hanya menganjurkan orang lain untuk melakukan perbuatan baik sementara dia sendiri secara terpaksa tidak bisa melakukannya, maka dia akan memperoleh pahala orang yang mengikuti anjurannmya
4.      Apabila seseorang melakukan kejahatan dan mengajak orang lain, maka dia akan mendapat dua dosa, yaitu dosa atas perbuatannya sendiri dan dosa orang lain yang mengikutinya. Apabila seseorang hanya menganjurkan perbuatan jahat tetapi dia sendiri tidak melakukannya, maka dia akan memperoleh dosa sebanyak kejahatan yang dilakukan orang lain atas anjurannya tersebut. (Depag : 2002, hal 144)

LEMBAR KERJA SISWA
1.      Tuliskan kembali Hadits di bawah ini lengkap dengan syakalnya dan simpulkan  isinya!
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلم : مَنْ دَعَا اِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلاجْرِ مِثْلُ اُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ  لا يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا اِلَى الضَّلالَةِ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الاثْمِ مِثْلُ اَثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لا يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ اَثَامِهِمْ شَيْئًا
2.      Tidak semua bentuk prakarsa, gagasan dan ajakan dibenarkan dalam agama. Jelaskan dengan singkat wilayah dan masalah apa yang dibenarkan dalam agama !.
3.      Bagimana menurut pendapatmu bila seseorang mempunyai kemampuan untuk membrantas kemungkaran namun ia tidak melakukannya? Contoh seorang Presiden, Para Mentri, Panglima ABRI atau Jabatan lain yang memang mempunyai wewenang dan kekuatan untuk merubah kemaksiatan.
4.      Tuliskan matan Hadits Tentang Perintah Bersikap lemah lembut !.
5.      Semua orang beriman wajib menjalankan dakwah, walaupun ilmu yang dilimiki belum memadai. Tulislah dalil yang menguatkan statemen di atas!.
6.      Identifikasikan Sikap Positif Yang Harus Dimiliki Juru Dakwah:

No
Jenis Sikap Positif
Pelajaran Yang Diambil
Cara Mengembangkanya
1



2



3



4



5




TES  PENGUASAAN MATERI

A.     Pilihlah jawaban A,B,C,D atau E yang kamu yakini benar!
1.      Isi seruan dan peringatan yang disampaikan oleh Rosulullah pada saat mengumpulkan keluarga dan familinya yang berkaitan dengan turunnya Qs Asy-Syua’ro ayat 214 – 216 adalah …
a.        Selamatkanlah dirimu dari api neraka
b.       Selamatkan dirimu dari kerusakan moral
c.        Selamatkan dirimu dari kemiskinan
d.       Selamatkan dirimu dari kebodohan
e.        Selamatkan dirimu dari kebatilan
2.      Di bawah ini merupakan dasar-dasar yang dapat digunakan oleh seorang dai dalam melakaukan aktifitas dakwahnya kecuali …
a.        Dakwah hendaknya disampai-kan oleh orang yang sudah akil baliq
b.       Dakwah hendaknya semata-mata karena Allah
c.        Dakwah hendaknya dilakukan dengan hikmah
d.       Dakwah hendaknya dilaksana-kan dengan berulang-ulang
e.        Pemberi dakwah harus berperilaku konsisten dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.
3.      Melihat prilaku burung apabila ia hendak mendekati betina adalah dengan merendahkan sayapnya. Berangkat dari fenomena alam ini dapat diambil pelajaran bahwa manusia bila hendak mendekati seseorang adalah harus: 
a.       tegas
b.      merendah
c.       Diplomatis
d.      waspada
e.       Teliti
4.      Sebagai seorang muslim adalah berkewajiban untuk melaksanakan dakwah sesuai dengan kemampuannya dan secara maksimal, karena pada hakikatnya hasil dakwah adalah
a.      tidak dibebankan kepada manusia
b.      diberi pahala jika dakwahnya berhasil
c.      pahala yang diberikan tergantung pada jumlah obyek dakwahnya
d.      dikembalikannya kepada Allah
e.      jawaban a dan d benar
5.      Melihat bentuk kata   اُدْعُ إِلَى   dalam surat An-Nahl ayat 25 dapat diambil kesimpulan dari segi hukum bahwa berdakwah itu hukumnya ....
a.       sunnah            
b.      mubah 
c.       wajib               
d.      jaiz
e.       makruh
6.      Cara berdakwah sangat ditentukan oleh obyek dakwah itu sendiri. Adapun cara berdakwah pada orang awam yang paling tepat adalah ...
a.        bil hikmah
b.       bil mauidzah hasanah
c.        bil mujadalah
d.       bil sunnah
e.        bil ijtihadah
7.      Metode dakwah yang paling tepat untuk kaum intelektual dan kaum terpelajar adalah ...
a.        dengan argumen yang rasional
b.       dengan penuh toleransi
c.        dengan ceramah yang menarik
d.       dengan langsung memberi contoh
e.        dengan sendirian.
8.      kata yang artinya jalan dalam bahasa arab ditemukan lebih dari satu yaitu thariq, Syaari’ Syirath dan Sabil dan dalam kitab Mabahits fi ulumil Al-Qur’an yang ditulis Manna’ulqhotton dijelaskan bahwa ditinjau dari segi bahasa sabil mengandung arti
a.        jalan yang lurus
b.       jalan kesesatan
c.       terkadang digunakan untuk jalan lurus dan sesat
d.      hanya digunakan untuk jalan lurus yang bermakna immaterial
e.        Riwayat perjalanan
9.      Cara berdakwah sangat ditentukan oleh obyek dakwah itu sendiri. Adapun cara berdakwah pada orang awam yang paling tepat adalah ...
a.       bil hikmah
b.      bil mauidzah hasanah
c.       bil mujadalah
d.      bil sunnah
e.       bil ijtihadah
10.  Metode dakwah yang paling tepat untuk kaum intelektual dan kaum terpelajar adalah ...
a.       dengan argumen yang rasional
b.      dengan penuh toleransi
c.       dengan ceramah yang menarik
d.      dengan langsung memberi contoh
e.       dengan sendirian.

11.  Dibawah ini adalah dasar-dasar yang dapat digunakan oleh seorang dai dalam berdakwah kecuali …
a.       Dakwah hendaknya disampaikan oleh orang yang sudah akil baliq
b.      Dakwah hendaknya semata-mata karena Allah
c.       Dakwah hendaknya dilakukan dengan hikmah
d.      Dakwah hendaknya dilaksanakan dengan berulang-ulang
e.       Pemberi dakwah harus berperilaku konsisten dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.
12.  Sebagai seorang muslim adalah berkewajiban untuk melaksanakan dakwah sesuai dengan kemampuannya dan secara maksimal, karena pada hakikatnya hasil dakwah adalah
a.       tidak dibebankan kepada manusia
b.      diberi pahala jika dakwahnya berhasil
c.       pahala yang diberikan tergantung pada jumlah obyek dakwahnya
d.      dikembalikannya kepada Allah
e.       jawaban a dan d benar
13.  اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ .....
Potongan ayat tersebut yang sesuai adalah ...
a.        بِالَّتِيْ هِيَ أَفْضَل
b.       بِالَّتِيْ هِيَ خَيْر
c.        بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَن
d.       بِالَّتِيْ هِيَ أَقْرَب
e.        بِالَّتِيْ هِيَ أَذْهَب
14.      اُدْعُ   إِلَى   سَبِيْلِ  رَبِّكَ   بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
Ayat yang digaris bawahi tersebut arti harfiahnya adalah ke ....
a.       agama Islam
b.      jalan Tuhanmu
c.       jalan lurus
d.      jalan cepat
e.       jalan santai
15.    إِنَّ  رَبَّكَ  هُوَ  أَعْلَمُ  بِمَنْ  ضَلَّ  عَنْ سَبِيْلِهِ
Akhir Q.S An-Nahl : 125 yang benar adalah ...
a.        وَهُوَ أَعْلَمُ باِلظاَّلِمِيْن      
b.       وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْغَافِلِيْن
c.        وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُحْسِنِيْن
d.       وَهُوَ أَعْلَمُ باِلْمُفْلِحِيْن
e.        وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْن
16.  Salah satu faktor keberhasilan berdakwah seorang da’i harus mampu ibda’ binafsihi, maksudnya adalah …
a.       Menguraikan ceramahnya dengan bahasa yang lancar
b.      Memulai memberi contoh dari dirinya
c.       Mampu menggunakan bahasa yang menggugah semangat
d.      Bersikap lemah lembut
e.       Memberikan toleransi pada umat
17.  Sedangkan berdakwah dengan terjun langsung ke obyek dakwah dan di sertai dengan contoh-contoh yang konkrit disebut …
a.       da’wah bil maqal
b.      da’wah bil hal
c.       da’wah Islamiyah
d.      da’wah bil hikmah
e.       da’wah bil mujadalah
18.  Sebagai seorang Muslim maka kewajiban berdakwah akan selalu melekat pada dirinya di mana saja berada  karena sejatinya cara berdakwah dapat berupa adalah ...
a.       Memberi contoh prilaku yang baik
b.      Mengajak berbuat baik
c.       Tidak mendukung kemaksiatan
d.      Diam dan pasif
e.       Jawaban a, b dan c benar
19.  Dalam sebuah riwayat saat nabi berdakwah ada sebagian orang-orang yang ketika diajak nabi untuk masuk Islam respon mereka justru malah mengejek dan menghina beliau dan mengolok-oloknya bahkan mendurhakainya. Dan akhirnya karena perbuatannya, mereka mati dengan mengenaskan. Nama-nama mereka itu adalah, kecuali…
a.        Al-walid bin Mughirah
b.       Al-Ash bin Wa'il
c.        Aswad bin Muththalib
d.       Abu Sofyan
e.        Al-Haris bin Qais

20.  مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ ...   Potongan hadits tersebut yang sesuai adalah …
a.       يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِه
b.      يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِه
c.       يَسْتَطِعْ فَبِسَيْفِه
d.      يَسْتَطِعْ فَبِقَدْرِه
e.       يَسْتَطِعْ فَبِمَالِه
21.  فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ yang dimaksud dengan potongan hadits diatas adalah ..
a.       Dengan jabatan yang dimiliki
b.      Dengan kekuasaan yang dimiliki
c.       Dengan harta yang dimiliki
d.      Dengan ketrampilan yang dimiliki
e.       Hanya sebatas mempunyai kemampuan untuk mengingatkan dengan bahasa.
22.  وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ  Maksud ungkapan di atas adalah
a.       Iman itu bertingkat-tingkat
b.      Menghindari dari kemungkaran dengan hati merupakan jenis tingkatan iman
c.       Merubah dari  kemungkaran  hanya dengan hati adalah bukti keimanan masih lemah
d.      Keimanan orang muslim masih harus ditingkatkan
e.       Semua tingkatan keimanan berbeda yang satu dengna yang lain
23.  فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ  yang dimaksud dengan potongan hadits diatas adalah ..
a.       Dengan jabatan yang dimiliki
b.      Dengan kekuasaan yang dimiliki
c.       Dengan harta yang dimiliki
d.      Dengan ketrampilan yang dimiliki
e.       Semua jawaban benar
24.  Hadits مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا mengandung pengertian bahwa mencegah, menghambat, menghilangkan, dan merubah kemungkaran merupakan tanggung jawab ...
a.       para pemuka agama
b.      para kyai
c.       para pemegang kekuasaan
d.      para ustad-ustad
e.       siapa saja yang melihat dan mengetahui
25.  hadits tersebut di atas juga mengandung pemahaman ...
a.       hani anil munkar itu dilakukan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing
b.      siapa saja seorang mukmin/muslim terkena tanggung jawab nahi ‘anil munkar
c.       orang yang tidak malakukan nahi anil mungkar adalah jauh dari keimanan yang sebenarnya
d.      mengandung sindiran dan anjuran untuk tidak mendaji seseorang yang imannya lemah karena nahi anil mungkarnya hanya dengan hatinya saja, tanpa bisa berbuat apa-apa
e.       Semua jawaban benar

B.     Jawablah pertanyaan berikut dengan benar!
1.      Jelaskan isi kandungan Q.S Asy-Syu’ara ayat 214-216 dan pelajaran apa yang dapat kamu ambil dari ayat tersebut !         
2.      Jelaskan apa yang dilakukan nabi setelah turunnya surat Al Hijr ayat 94 – 96 !         
3.      Di sebuah kampung sebagian penduduknya rata-rata hanya berpendidikan SD dan SMP dan hanya sebagian kecil yang tamat SMA, Cari dan pilihlah metode yang paling cocok  bagi masyarakat di kampung tersebut !
4.      Ada temanmu yang berpendapat bahwa berdakwah harus mempunyai keahlian khusus, terutama Bahasa arab dan mengerti tafsir Al-Qur’an dan Al- hadits sehingga kalau tidak mempunyai bekal tersebut tidak boleh berdakwah, bahkan tidak ada kewajiban bagi dirinya untuk berdakwah. Bagimana menurut pendapat anda dengan temanmu tersebut !
5.      Sebutkan beberapa point tentang pedoman berdakwah !



Tausiyah: Berbicaralah Yang Jujur, Baik Dan Benar, Sesungguhnya Kalian Telah Merintis Jalan Sukses Yang Mengantarkan Pada Masa Depan Gemilang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berdoa Dengan Syair Arab

Pertanyaan: Benarkah berdoa dengan menggunakan syair dilarang? Misalnya syair yang telah masyhur: “ilaahii lastu lil firdausi ahlaa”, dan sebagainya. Sebab saya pernah membaca tabloid/majalah yang melarang baca doa dalam syair. A Rahman, Sby Jawaban: Berdoa dengan menggunakan syair telah diamalkan oleh Rasulullah Saw. Misalnya doa Nabi yang bersajak: وَاللهِ لَوْلاَ أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا % وَلاَ تَصَدَّقْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا               فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا % إِنَّ الأُلَى قَدْ أَبَوْا عَلَيْنَا وَيَرْفَعُ بِهَا صَوْتَهُ (رواه البخاري رقم 2837 ومسلم رقم 4771) “Demi Allah, tanpa-Mu kami tak akan dapat hidayah, kami takkan bisa bersedekah dan tidak bisa salat * Maka turunkan ketenangan kepada kami * Orang-orang terdahulu telah menolak kami” (HR al-Bukhari No 2837 dan Muslim No 4771) Bahkan dalam riwayat Muslim ada tambahan “Rasulullah mengeraskan suaranya (dengan doa syair tersebut)” Dalam...

RPP ADIWIYATA MADRASAH ALIYAH

RPP ADIWIYATA MADRASAH ALIYAH R ENCANA PELKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)    NAMA SEKOLAH                 : MAN 2 Gresik     MATA PELAJARAN            : Fiqih     KELAS/SEMESTER                :   XI ( Sebelas ) / 1(Ganjil)    WAKTU                                   : 2 X 4 5 menit     STANDAR KOMPETENSI  1.   Memahami ketentuan Islam tentang jinayah dan hikmahnya KOMPETENSI DASAR             1.1. Menjelaskan hukum pembunuhan dan hikmahnya. TEMA PLH ·          Sampah (Pemanfaatan...

Meng-qadla’ Salat Mayit

Pertanyaan: Adakah dalil Al Quran yang menerangkan meng-qadha’ shalat yang ditinggalkan oleh si mayit? Suhaili, Sby Jawaban: Tidak ditemukan dalil Al Quran tentang mengqadha’ shalat yang ditinggalkan si mayit. Akan tetapi penegasan hadits tentang qadha’ atas puasa yang berbunyi: عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ k قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ g فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أُمِّى مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَقْضِيهِ عَنْهَا قَالَ «نَعَمْ قَالَ فَدَيْنُ اللهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى» (رواه البخارى رقم 1953 ومسلم رقم 2750) “Ada seseorang datang kepada Rasulullah Saw, ia berkata: Wahai Rasulullah, ibu saya meninggal dan punya tanggungan puasa 1 bulan, apakah saya meng-qadla’ atas nama beliau? Rasulullah menjawab: “Ya. Dan hutang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan” (HR Bukhari 1953 dan Muslim 2750 dari Ibnu Abbas) Hadis ini kemudian diperluas kandungannya oleh Imam Syafi’i dalam qaul qadim (Madzhab terdahulu ketika di Baghdad) mencakup pada shalat-shalat y...