CROSS-FUNCTIONAL MINDSET
Dunia dan lingkungan bisnis telah
mengalami perubahan yang pesat dan radikal. Individualisme telah melemah dan
mulai digantikan dengan kerja tim. Spesialisasi telah tidak sesuai lagi dengan
tuntunan lingkungan kerja dan mulai digantikan dengan generalisasi gaya baru.
Garis organisasi yang kaku menjadi tidak lagi efektif dan mulai digantikan
dengan kerjasama yang berubah-ubah. Kekuasaan telah hilang pengaruhnya dan
digantikan oleh pemberdayaan. Organisasi hirarkis telah kehilangan daya
keandalannya dan telah digantikan dengan organisasi jaringan, organisasi yang
berkemampuan untuk merespon dengan cepat perubahan lingkungan bisnis,
organisasi informal, dan organisasi horizontal.
Perubahan lingkungan bisnis tersebut
menuntut pendekatan baru didalam membagun organisasi. Cross-functional
approach merupakan pendekatan baru untuk membangun struktur cross-functional
organization (organisasi lintas fungsional) yang memungkinkan tim lintas
fungsional (cross-functional team) memenuhi tuntutan lingkungan bisnis
global. Untuk menjadikan personel efektif dalam bekerja di tim lintas
fungsional, personel perlu memiliki mindset yang cocok dengan pendekatan lintas
fungsional. Cross-functional mindset adalah sikap mental yang cocok bagi
pekerja yang bekerja dalam cross-functional organization. Di samping
itu, Cross-functional mindset merupakan mindset yang cocok dalam
mewujudkan sistem pengendalian manajemen untuk menghadapi lingkungan bisnis
global.
MENGAPA DIBUTUHKAN CROSS-FUNCTIONAL
TEAM ?
Perubahan lingkungan bisnis yang
dihadapi oleh perusahaan pada umumnya merupakan penyebab utama manajemen perlu
ditinjau kembali pendekatan yang digunakan untuk mengorganisasi sumber daya
manusia. Ada dua faktor yang menyebabkan dibutuhkan cross-functional team,
yaitu:
- Perlunya Organisasi Berorientasi ke Sistem
Manajemen memerlukan pendekatan baru
dalam pengorganisasian sumber daya manusia agar mampu memfokuskan perhatian
seluruh personel organisasi dalam menghasilkan value bagi customers.
Melalui Cross-functional approach, organisasi diorientasikan ke sistem
yang digunakan untuk menghasilkan value bagi customer. Orientasi seperti
ini menyebabkan perusahaan radikal dalam cara manajemen mengorganisasi sumber
daya manusia. Sumber daya manusia diorganisasi ke dalam cross-functional
team. Tim ini bekerja melalui sistem untuk pemuasan kebutuhan customer.
- Pandangan Bahwa Organisasi Sebagai Suatu Tim
Organisasi dapat dipandang dari dua
sudut pandang: (1) sebagai kumpulan berbagai fungsi yang terpisah, atau (2)
sebagai suatu sistem. Pandangan sistem menggambarkan organisasi sebagai suatu
sistem terbuka yang berinteraksi dengan lingkungannya melalui arus kerja yang
terdiri dari masukan, konversi, dan keluaran.
Apa yang dimaksud dengan Sistem ?
Sistem versus proses. Sistem terdiri dari
kebijakan, motivator, teknologi, proses, dan operasi. Dari definisi tersebut
kebijakan, motivator, teknologi, proses, dan operasi merupakan lima komponen
sistem. Manajer cenderung mengaburkan perbedaan antara sistem dengan proses dan
seringkali menggunakan kedua istilah tersebut, seolah dapat saling
menggantikan. Sistem sebenarnya berbeda dengan proses. Pertama, sistem lebih
luas dibandingkan proses. Suatu sistem terdiri dari beragam proses, seperti
yang terdapat dalam pemasaran, produksi, teknik, dan keuangan. Didamping itu,
arus kerja tidak hanya secara sederhana berupa arus berurutan, dari satu proses
atau operasi ke proses atau operasi yang lain.
Proses versus operasi. Operasi adalah
pekerjaan yang dilaksanakan oleh manusia dan mesin atas bahan atau informasi.
Proses adalah arus produk, bahan, atau informasi dari seorang karyawan atau
tempat kerja satu ke karyawan atau tempat kerja lain. Untuk melakukan improvementterhadap
proses, manajemen tidak boleh hanya meningkatkan operasi pengolahan, atau operasi
inspeksi, atau operasi transport. Oleh karena masing-masing operasi dalam
proses terkait satu dengan lainnya, perbaikan di satu proses akan berpengaruh
terhadap kinerja operasi yang lain dalam proses tersebut.
TIM
Definisi tim. Tim adalah kumpulan
orang yang, berdasarkan keahlian masing-masing yang bersifat saling melengkapi,
bekerja sama untuk mewujudkan tujuan tertentu bersama.
Tujuan tim. Tim dibentuk untuk
mewujudkan tujuan tertentu. Ada tim yang dibentuk untuk pengembangan produk,
pengembangan sistem, improvement terhadap kualitas, penyelesaian
masalah, attau perekayasaan kembali sistem yang digunakan untuk melayani
customer.
Masa kerja tim. Masa kerja tim dapat
dibagi menjadi dua: sementara dan permanen. Tim yang memiliki masa kerja
permanen adalah tim yang dibangun sebagai bagian permanen struktur organisasi
perusahaan. Tim sementara adalah tim yang dibentuk untuk mewujudkan
tujuan-tujuan jangka pendek dan akan segera dibubarkan begitu tujuan tim telah
tercapi.
Keanggotaan tim. Keanggotaan tim dapat
bersifat fungsional atau lintas fungsional. Tim fungsional beranggotakan
orang-orang dengan keahlian sama, baik yang diperoleh dari pendidikan maupun
dari pengalaman. Tim lintas fungsional beranggotakan orang-orang dari berbagai
fungsi dengan berbagai keahhlian.
TIM LINTAS FUNGSIONAL (CROSS-FUNCTIONAL
TEAM)
Deskripsi Umum Tentang Tim Lintas
Fungsional
Definisi. Tim lintas fungsional
adalah sekelompok perssonel yang berasal dari berbagai fungsi atau disiplin
dalam organisasi, berusaha bersama-sama mewujudkan tujuan tim.
Keanggotaan tim lintas fungsional. Tim lintas fungsional
beranggotakan berbagai personel yang memiliki keahlian tertentu di bidangnya.
Dengan demikian tim lintas fungsional seringkali disebut dengan tim multi
disiplin. Dalam bidang pendidikan dikenal dengan nama tim interdisiplin.
Pemimpin tim lintas fungsional. Tim lintas fungsional
dipimpin oleh seorang manajer yang seringkali disebut dengan case manager, yang
memegang kepemilikan sistem dan bertanggungjawab untuk: (1) mencapai tujuan sistem,
pemuasan kebutuhan customer, (2) melakukan improvement berkelanjutan
terhadap sistem tersebut.
Pendekatan Lintas Fungsional (Cross-functional
approach) dalam Membangun Struktur Organisasi
Pendekatan lintas fungsional menggunakan
prinsip-prinsip berikut ini dalam pembangunan struktur organisasi:
- Organisasi diorientasikan ke sistem yang digunakan untuk melayani kebutuhan customer.
- Sumber daya manusia diorganisasikan menurut tim lintas fungsional dan setiap tim diberi tanggungjawab untuk mewujudkan tujuan sistem dan melakukan improvement secara berkelanjutan terhadap sistem tersebut.
CROSS FUNCTIONAL MINDSET
Tim lintas fungsional hanya akan efektif
di dalam menjalankan organisasi lintas fungsional jika mereka memiliki mindset
yang cocok dengan organissai tersebut. Proses untuk menghasilkan produk dan
jasa menembus batas-batas antar fungsi. Dengan demikian manajemen atas
aktivitas pembuatan produk dan jasa penyediaan jasa hanya akan berhasil jika
batas-batas antarfungsi ditiadakan, baik secra fisik maupun secara mental.
|
|
Gambar: Blok Bangunan Cross-Functional
Mindset
Paradigma Lintas Fungsional
Paradigma lintas fungsional memandang
organisasi sebagai:
- Suatu rangkaian system yang digunkan untuk melayani kebutuhan customer
- Suatu kumpulan shared competencies and resources yang disediakan untuk dimobilisasi guna memenuhi kebutuhan customer.
Keyakinan Dasar Untuk Mewujudkan
Paradigma Lintas Fungsional
Terdapat empat keyakinan dasar yang
perlu ditanamkan dalam diri setiap personel tentang cross functional approach :
- Produk berkualitas hanya dapat dihasilkan secara konsisten melalui kerja sama lintas fungsional
- Kerjasama lintas fungsional menghasilkan sinergi
- Cross functional approach membentuk learning organization
- Kerjasama lintas fungsional memfokuskan sumber daya organissai ke kepuasan customer.
Nilai Dasar Untuk Mewujudkan
Paradigma Lintas Paradigma
Nilai dasar yang melandasi cross
functional approach :
- Kerjasama : Cross functional approach hanya akan terwujud jika anggota organisasi menjunjung tinggi nilai kerjasama karena kompleksnya kebutuhan customer, usaha individual dan fungsional tidak akan mampu memenuhi kebutuhan customer
- Mental berlimpahan : adalah kemampuan jiwa seseoarng dalam menerima keberhasilan, kelebihan, keberuntungan, penghargaan yang diperoleh orang lain
- Kerendahan Hati : Kerendahan hati menjadikan orang mampu menerima kehadiran orang lain dalam bekerja dan mampu membangun kerjasama dengan orang lain dalam mencapai tujuan bersama.
PERWUJUDAN CROSS FUNTIONAL MINDSET KE
DALAM SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN
Cross Functional Mindset diwujudkan
kedalam dua komponen system pengendalian manajemen, yaitu:
- 1. Perwujudan cross functional mindset ke dalam struktur system pengendalian manajemen
Cross functional mindset diwujudkan
dalam struktur system pengendalian manajemen berikut ini :
ü Cross functional
organization : Cross functional organization ini menggunakan paradigma
organisasi sebagai : (1) Suatu rangkaian system yang digunakan untuk melayani
kebutuhan customer dan (2) Suatu kumpulan shared competencies and resources
yang disediakan untuk dimobilisasi guna memenuhi kebutuhan customer.
Customer dilayani melalui tiga system
utama: system order getting, system order filling, dan system layanan purna
jual.
Manajer ketiga system tersebut mempunyai
dua tanggung jawab:
- Memobilisasi shared competencies and resources yang disediakan oleh organisasi fungsional untuk mencapai tujuan system, yaitu menghasilkan value bagi customer.
- Melakukan improvement secara berkelanjutan terhadap system yang menjadi tanggung jawabnya.
ü Sistem Penghargaan Tim
Lintas Fungsional : Cross functional mindset diwujudkan ke dalam
struktur pengendalian manajemen berupa system penghargaan yang cocok dengan
organisasi lintas fungsional. Untuk menanamkan perilaku tim kerja ke dalam diri
personel, system penghargaan personel didasrkan pada criteria kinerja yang
mencakup :
- Berbagi informasi dengan anggota tim lain
- Merundingkan perbedaan yang terjadi secara efektif
- Mendorong dan mengakui kontribusi anggota lain tim
- Mendorong kerja sama dan kerja tim diantara orang dalam kelompoknya dan dengan kelompok lain dalam perusahaan.
- 2. Perwujudan Cross-Functional Mindset Ke Dalam Proses Sistem Pengendalian Manajemen
Proses system pengendalian manajemen
terdiri dari enam tahap:
- Perumusan strategi
- Perencanaan strategic
- Penyusunan program
- Penyusunan anggaran
- Implementasi
- Pengendalian
Cross-Functional Mindset diwujudkan dalam
tahap-tahap proses system pengendalian manajemen berikut ini:
- Penyusunan anggaran berbasis aktivitas (activity – based budgeting)
- Implementasi rencana dengan activity – based management
- Pengendalian pelaksanaan rencana dengan activity – based cost system
Employee Empowerment Mindset
Pemberdayaan karyawan (employee
empowerment) merupakan trend pengelolaan sumber daya manusia di
dalam organisasi masa depan. Pemberdayaan karyawan dilakukan di dalam
orgainsasi perusahaan dengan fokus ke penyediaan produk dan jasa bagi customers.
Untuk kepuasan customer-lah pada dasarnya pemberdayaaan karyawan ini
ditujukan.
- Faktor-faktor yang mendasari pemberdayaan karyawan
- 1. Pergeseran teknologi yang digunakan oleh masyarakat di dalam memenuhi kebutuhan produk dan jasa (smart technology)
Menurut sifar dasarnya, snart
technologgy hanya produktif ditangan knowledge workers. Oleh karena
itu, hanya knowledge workers yang mampu menjadikan smart technology
produktif untuk menghasilkan produk dan jasa bagi customers. Smart
technology memiliki karakteristik untuk menyediakan shared database yang
memungkinkan information sharing diantara anggota organisasi baik secara
vertikal maupun horizontal serta antar perusahaan maupun antar perusahaan
dengan customer sehingga memudahkan manager bawah dan karyawan dalam
pengambilan keputusan. Karakteristik smart techologi tersebut memerlukan
pemberdayaan karyawan sebagai pendekatan pengelolaan sumber daya manusia yang
pas dengan teknologi tersebut. Dengan pemberdayaan karyawan memberikan
keleluasaan kepada knwoledge workers untuk mengakses pusat informasi
perusahaan sehingga memampukan mereka mengambil keputusan dalam mengambil
merespon dengan cepat perubahan kebutuhan customer.
- 2. Tipe pekerja yang pas dengan teknologi yang digunakan oleh masyarakat (knowledge workers)
Knowledge workers adalah pekerja yang
memiliki ketrampilan tinggi, disamping itu mereka mempunyai pengetahuan tinggi
yang diperoleh dari pendidikan formal dan kemampuan untuk belajar serta untuk
memperoleh tambahan pengetahun. Menurut fungsinya, knowledge workers adalah
orang yamng memanfaatkan pengetahuannya untuk menciptakan produk dan jasa bagi customer
perusahaan dengan menggunakan smart technology. Pekerjaan knowledge
workers lebih bersifat krestif sehingga tidak dapat disupervisi sebagaimana
yang diterapkan di dalam pengawasan terhadap pekerja yang mengoperasikan hard
autonation.
- Paradigma Pemberdayaan Karyawan
Pemberdayaan karyawan berarti memampukan
dan memberi kesempatan kepada karyawan untuk merencanakan, mengimplementasikan
rencana, dan mengendalikan implementasi rencana pekerjaan yang menjadi
tanggungjawabnya atau tanggungjawab kelompoknya
- Mindset Pemberdayaan Karyawan – Sudut Pandang Manager
Ditinjau dari susut pandang manajer,
pemberdayaan karyawan merupakan proses pemberian kesempatan kepada karyawan
untuk memampukan diri karyawan di dalam merencanakan dan mengendalikan
implementasi rencana pekerjaan yang menjadi tanggung jawab karyawan.
- Keyakinan Dasar Dalam Diri Manager Untuk Mewujudkan Paradigma Pemberdayaan Karyawan
Keyakina dasar yang perlu dimiliki
manager untuk mewujudkan mindset pemberdayaan karyawan adalah (1)
Karyawan adalah manusia, (2) Orang pada dasrnya adalah baik, (3) Birokrasi
membunuh inisiatif, (4) Tugas manager adalah menyediakan pelatihan, teknologi,
dan dukungan bagi karyawan.
- Nilai Dasar Dalam Diri Manajer Untuk Mewujudkan Paradigma Pemberdayaan Karyawan
Untuk mewujudkan paradigma pemberdayaan
karyawan, perlu ditanamkan personal values, dalam diri para manajer yang
pas dengan paradigma tersebut, yaitu : (1) Kejujuran, dan (2) Kerendahan hati.
- Mindset Pemberdayaan Karyawan – Sudut Pandang Karyawan
Dari sudut pandang karyawan,
pemberdayaan karyawan berkaitan dengan bagaimana karyawan dipercaya oleh
manajer untuk mengambil keputusan tentang pekerjaan yang menjadi tanggung jawab
karyawan, sehingga perlu dibangun keyakinan dasar dan nilai dasar dalam diri
karyawan.
- Keyakinan Dasar Dalam Diri Karyawan Untuk Memperoleh Kepercyaan Dari Manager
Dua keyakinan dasar yang perlu dibangun
dalam diri karyawan untuk memperoleh kepercayaan dari manager adalah :
- Pemberdayaan karyawan hanya akan terwujud berdasarkan kepercayaan yang tumbuh dalam diri manager terhadap karyawan
- Kepercayaan manger terhadap karyawan tumbuh karena kompetensi dan karakter yang dibangun dalam diri karyawan.
- Kepercayaan
Pemberdayaan karyawan hanya akan
terwujud jika karyawan dapat dipercaya oleh manager.
- Kompetensi Dan Karakter
Kompetensi dimiliki oleh karyawan jika
ia berkemampuan untuk mengunakan knowledge yang dimiliki sebagai sumber
daya yang khusus dimiliki oleh manusia.
- Nilai Dasar Dalam Diri Karyawan
Lima nilai dasar yang perlu dijunjung
tinggi oleh karyawan agar ia dapat dipercaya oleh manajer dan teman kerja lain
dalam tim kerja adalah : kejujuran, keberanian, integritas, mental berlimpah
dan kesabaran dalam mewujudkan visi.
Kejujuran, kemampuan orang
untuk mengatakan suatu kenyataan sebagaimana adanya. Kejujuran membutuhkan
keberaniian jiwa, karena seringkali suatu kenyataan jika diungkapkan
sebagaimana adanya mempunyai dampak yang tidak menguntungkan bagi pengungkap.
Keberanian, keteguhan hati
seorang dalam mempertahankan pendirian, keyakinan, prinsip, visinya. Keberanian
adalah keteguhan hati dalam mengambil posisi.
Integritas, kemampuan orang
unutk mewujudkan apa yang teah diucapkan atau janjikan oleh orang tersebut
menjadi suatu kenyataan.
Mental berlimpah (abundant mentality), kemampuan jiwa
seseorang dalam menerima keberhasilan, kelebihan, keberuntungan, penghargaan
yang diperoleh orang lain. Perwujudan nilai mental berlimpah antara lain:
- Ringan hati untuk memberikan selamat atas keberhasilan rekan sekerja
- Menghindarkan diri dari sikap merendahkan prestasi rekan sekerja
- Membiasakan diri melihat ”the bright side of everyone and everything”
Kesabaran, dalam mewujudkan
visi merupakan nilai yang perlu dijunjung tinggi oleh karyawan. Kejujuran
adalah kekuatan hati orang untuk menerima kelainan yang terjadi terhadap
dirinya dalam jangka waktu panjang.
PERWUJUDAN MINDSET PEMBERDAYAAN KARYAWAN
KE DALAM SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMRN
Mindset ini diwujudkan ke dalam dua
komponen sistem pengendalian manajemen: (1) struktur pengendalian manajemen,
(2) proses sistem pengendalian manajemen
Perwujudan Mindset Pemberdayaan Karyawan
Ke Dalam Struktur Sistem Pengendalian Manajemen
Mindset pemberdayaan karyawan diwujudkan
dalam struktur sistem pengendalian manaajemen berikut ini:
- Organisasi Masa Depan
Terdapat empat perubahan organisasi masa
depan yang dilandasi oleh mindset pemberdayaan karyawan:
(a) struktur organisasi menjadi datar
(b) kembalinya fungsi dasar organisasi
sebagai destabilizer
(c) deskripsi jabatan menjadi tidak
diperlukan
(d) berkembangnya jaringan organisasi
untuk memenuhi kebutuhan customers yang semakin kompleks.
- Pengelolaan Knowledge Workers
- subsidicrity dan peran manajer, tugas manajer dalam kondisi subsidicrity adalah memastikan bahwa individu atau kelompok:
- memiliki kompetensi dan karakter dalam melaksanakan tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka
- memahami visi yang akan dituju organisasi
- memiliki komitmen terhadap visi organisasi
- wewenang
- leadership from everybody
Perwujudan Mindset Pemberdayaan Karyawan
Ke Dalam Proses Sistem Pengendalian Manajemen
Mindsrt pemberdayaan karyawan diwujudkan
dalam proses sistem pengendalian manajemen berupa pergeseran pengelolaan dari financial
assets leverage ke human assets leverage.
Pergeseran Pengelolaan Dari Financial
Assets Leverage Ke Human Assets Leverage
Titik berat penekanan proses sistem
pengendalain manajemen perlu diarahkan ke human assets leverage untuk
menjadikan perusahaan mampu sebagai institusi pencipta kekayaan di lingkungan
bisnis global. Human assets leverage menekankan pada pentingnya perspektif
pembelajaran dan pertumbuhan ini dalam strategic objectives.
BAB 7
CROSS-FUNCTIONAL MINDSET
Dunia dan lingkungan bisnis telah
mengalami perubahan yang pesat dan radikal. Individualisme telah melemah dan
mulai digantikan dengan kerja tim. Spesialisasi telah tidak sesuai lagi dengan
tuntunan lingkungan kerja dan mulai digantikan dengan generalisasi gaya baru.
Garis organisasi yang kaku menjadi tidak lagi efektif dan mulai digantikan
dengan kerjasama yang berubah-ubah. Kekuasaan telah hilang pengaruhnya dan
digantikan oleh pemberdayaan. Organisasi hirarkis telah kehilangan daya
keandalannya dan telah digantikan dengan organisasi jaringan, organisasi yang
berkemampuan untuk merespon dengan cepat perubahan lingkungan bisnis,
organisasi informal, dan organisasi horizontal.
Perubahan lingkungan bisnis tersebut
menuntut pendekatan baru didalam membagun organisasi. Cross-functional
approach merupakan pendekatan baru untuk membangun struktur cross-functional
organization (organisasi lintas fungsional) yang memungkinkan tim lintas
fungsional (cross-functional team) memenuhi tuntutan lingkungan bisnis
global. Untuk menjadikan personel efektif dalam bekerja di tim lintas
fungsional, personel perlu memiliki mindset yang cocok dengan pendekatan lintas
fungsional. Cross-functional mindset adalah sikap mental yang cocok bagi
pekerja yang bekerja dalam cross-functional organization. Di samping
itu, Cross-functional mindset merupakan mindset yang cocok dalam
mewujudkan sistem pengendalian manajemen untuk menghadapi lingkungan bisnis
global.
MENGAPA DIBUTUHKAN CROSS-FUNCTIONAL
TEAM ?
Perubahan lingkungan bisnis yang
dihadapi oleh perusahaan pada umumnya merupakan penyebab utama manajemen perlu
ditinjau kembali pendekatan yang digunakan untuk mengorganisasi sumber daya
manusia. Ada dua faktor yang menyebabkan dibutuhkan cross-functional team,
yaitu:
- Perlunya Organisasi Berorientasi ke Sistem
Manajemen memerlukan pendekatan baru
dalam pengorganisasian sumber daya manusia agar mampu memfokuskan perhatian
seluruh personel organisasi dalam menghasilkan value bagi customers.
Melalui Cross-functional approach, organisasi diorientasikan ke sistem
yang digunakan untuk menghasilkan value bagi customer. Orientasi seperti
ini menyebabkan perusahaan radikal dalam cara manajemen mengorganisasi sumber
daya manusia. Sumber daya manusia diorganisasi ke dalam cross-functional
team. Tim ini bekerja melalui sistem untuk pemuasan kebutuhan customer.
- Pandangan Bahwa Organisasi Sebagai Suatu Tim
Organisasi dapat dipandang dari dua
sudut pandang: (1) sebagai kumpulan berbagai fungsi yang terpisah, atau (2)
sebagai suatu sistem. Pandangan sistem menggambarkan organisasi sebagai suatu
sistem terbuka yang berinteraksi dengan lingkungannya melalui arus kerja yang
terdiri dari masukan, konversi, dan keluaran.
Apa yang dimaksud dengan Sistem ?
Sistem versus proses. Sistem terdiri dari
kebijakan, motivator, teknologi, proses, dan operasi. Dari definisi tersebut
kebijakan, motivator, teknologi, proses, dan operasi merupakan lima komponen
sistem. Manajer cenderung mengaburkan perbedaan antara sistem dengan proses dan
seringkali menggunakan kedua istilah tersebut, seolah dapat saling
menggantikan. Sistem sebenarnya berbeda dengan proses. Pertama, sistem lebih
luas dibandingkan proses. Suatu sistem terdiri dari beragam proses, seperti
yang terdapat dalam pemasaran, produksi, teknik, dan keuangan. Didamping itu,
arus kerja tidak hanya secara sederhana berupa arus berurutan, dari satu proses
atau operasi ke proses atau operasi yang lain.
Proses versus operasi. Operasi adalah
pekerjaan yang dilaksanakan oleh manusia dan mesin atas bahan atau informasi.
Proses adalah arus produk, bahan, atau informasi dari seorang karyawan atau
tempat kerja satu ke karyawan atau tempat kerja lain. Untuk melakukan improvementterhadap
proses, manajemen tidak boleh hanya meningkatkan operasi pengolahan, atau
operasi inspeksi, atau operasi transport. Oleh karena masing-masing operasi
dalam proses terkait satu dengan lainnya, perbaikan di satu proses akan
berpengaruh terhadap kinerja operasi yang lain dalam proses tersebut.
TIM
Definisi tim. Tim adalah kumpulan
orang yang, berdasarkan keahlian masing-masing yang bersifat saling melengkapi,
bekerja sama untuk mewujudkan tujuan tertentu bersama.
Tujuan tim. Tim dibentuk untuk
mewujudkan tujuan tertentu. Ada tim yang dibentuk untuk pengembangan produk, pengembangan
sistem, improvement terhadap kualitas, penyelesaian masalah, attau
perekayasaan kembali sistem yang digunakan untuk melayani customer.
Masa kerja tim. Masa kerja tim dapat
dibagi menjadi dua: sementara dan permanen. Tim yang memiliki masa kerja permanen
adalah tim yang dibangun sebagai bagian permanen struktur organisasi
perusahaan. Tim sementara adalah tim yang dibentuk untuk mewujudkan
tujuan-tujuan jangka pendek dan akan segera dibubarkan begitu tujuan tim telah
tercapi.
Keanggotaan tim. Keanggotaan tim dapat
bersifat fungsional atau lintas fungsional. Tim fungsional beranggotakan
orang-orang dengan keahlian sama, baik yang diperoleh dari pendidikan maupun
dari pengalaman. Tim lintas fungsional beranggotakan orang-orang dari berbagai
fungsi dengan berbagai keahhlian.
TIM LINTAS FUNGSIONAL (CROSS-FUNCTIONAL
TEAM)
Deskripsi Umum Tentang Tim Lintas
Fungsional
Definisi. Tim lintas fungsional
adalah sekelompok perssonel yang berasal dari berbagai fungsi atau disiplin
dalam organisasi, berusaha bersama-sama mewujudkan tujuan tim.
Keanggotaan tim lintas fungsional. Tim lintas fungsional
beranggotakan berbagai personel yang memiliki keahlian tertentu di bidangnya.
Dengan demikian tim lintas fungsional seringkali disebut dengan tim multi
disiplin. Dalam bidang pendidikan dikenal dengan nama tim interdisiplin.
Pemimpin tim lintas fungsional. Tim lintas fungsional
dipimpin oleh seorang manajer yang seringkali disebut dengan case manager, yang
memegang kepemilikan sistem dan bertanggungjawab untuk: (1) mencapai tujuan
sistem, pemuasan kebutuhan customer, (2) melakukan improvement
berkelanjutan terhadap sistem tersebut.
Pendekatan Lintas Fungsional (Cross-functional
approach) dalam Membangun Struktur Organisasi
Pendekatan lintas fungsional menggunakan
prinsip-prinsip berikut ini dalam pembangunan struktur organisasi:
- Organisasi diorientasikan ke sistem yang digunakan untuk melayani kebutuhan customer.
- Sumber daya manusia diorganisasikan menurut tim lintas fungsional dan setiap tim diberi tanggungjawab untuk mewujudkan tujuan sistem dan melakukan improvement secara berkelanjutan terhadap sistem tersebut.
CROSS FUNCTIONAL MINDSET
Tim lintas fungsional hanya akan efektif
di dalam menjalankan organisasi lintas fungsional jika mereka memiliki mindset
yang cocok dengan organissai tersebut. Proses untuk menghasilkan produk dan
jasa menembus batas-batas antar fungsi. Dengan demikian manajemen atas
aktivitas pembuatan produk dan jasa penyediaan jasa hanya akan berhasil jika
batas-batas antarfungsi ditiadakan, baik secra fisik maupun secara mental.
|
|
Gambar: Blok Bangunan Cross-Functional
Mindset
Paradigma Lintas Fungsional
Paradigma lintas fungsional memandang
organisasi sebagai:
- Suatu rangkaian system yang digunkan untuk melayani kebutuhan customer
- Suatu kumpulan shared competencies and resources yang disediakan untuk dimobilisasi guna memenuhi kebutuhan customer.
Keyakinan Dasar Untuk Mewujudkan
Paradigma Lintas Fungsional
Terdapat empat keyakinan dasar yang
perlu ditanamkan dalam diri setiap personel tentang cross functional approach :
- Produk berkualitas hanya dapat dihasilkan secara konsisten melalui kerja sama lintas fungsional
- Kerjasama lintas fungsional menghasilkan sinergi
- Cross functional approach membentuk learning organization
- Kerjasama lintas fungsional memfokuskan sumber daya organissai ke kepuasan customer.
Nilai Dasar Untuk Mewujudkan
Paradigma Lintas Paradigma
Nilai dasar yang melandasi cross
functional approach :
- Kerjasama : Cross functional approach hanya akan terwujud jika anggota organisasi menjunjung tinggi nilai kerjasama karena kompleksnya kebutuhan customer, usaha individual dan fungsional tidak akan mampu memenuhi kebutuhan customer
- Mental berlimpahan : adalah kemampuan jiwa seseoarng dalam menerima keberhasilan, kelebihan, keberuntungan, penghargaan yang diperoleh orang lain
- Kerendahan Hati : Kerendahan hati menjadikan orang mampu menerima kehadiran orang lain dalam bekerja dan mampu membangun kerjasama dengan orang lain dalam mencapai tujuan bersama.
PERWUJUDAN CROSS FUNTIONAL MINDSET KE
DALAM SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN
Cross Functional Mindset diwujudkan
kedalam dua komponen system pengendalian manajemen, yaitu:
- 1. Perwujudan cross functional mindset ke dalam struktur system pengendalian manajemen
Cross functional mindset diwujudkan
dalam struktur system pengendalian manajemen berikut ini :
ü Cross functional
organization : Cross functional organization ini menggunakan paradigma
organisasi sebagai : (1) Suatu rangkaian system yang digunakan untuk melayani
kebutuhan customer dan (2) Suatu kumpulan shared competencies and resources
yang disediakan untuk dimobilisasi guna memenuhi kebutuhan customer.
Customer dilayani melalui tiga system
utama: system order getting, system order filling, dan system layanan purna
jual.
Manajer ketiga system tersebut mempunyai
dua tanggung jawab:
- Memobilisasi shared competencies and resources yang disediakan oleh organisasi fungsional untuk mencapai tujuan system, yaitu menghasilkan value bagi customer.
- Melakukan improvement secara berkelanjutan terhadap system yang menjadi tanggung jawabnya.
ü Sistem Penghargaan Tim
Lintas Fungsional : Cross functional mindset diwujudkan ke dalam
struktur pengendalian manajemen berupa system penghargaan yang cocok dengan
organisasi lintas fungsional. Untuk menanamkan perilaku tim kerja ke dalam diri
personel, system penghargaan personel didasrkan pada criteria kinerja yang
mencakup :
- Berbagi informasi dengan anggota tim lain
- Merundingkan perbedaan yang terjadi secara efektif
- Mendorong dan mengakui kontribusi anggota lain tim
- Mendorong kerja sama dan kerja tim diantara orang dalam kelompoknya dan dengan kelompok lain dalam perusahaan.
- 2. Perwujudan Cross-Functional Mindset Ke Dalam Proses Sistem Pengendalian Manajemen
Proses system pengendalian manajemen
terdiri dari enam tahap:
- Perumusan strategi
- Perencanaan strategic
- Penyusunan program
- Penyusunan anggaran
- Implementasi
- Pengendalian
Cross-Functional Mindset diwujudkan dalam
tahap-tahap proses system pengendalian manajemen berikut ini:
- Penyusunan anggaran berbasis aktivitas (activity – based budgeting)
- Implementasi rencana dengan activity – based management
- Pengendalian pelaksanaan rencana dengan activity – based cost system
Employee Empowerment Mindset
Pemberdayaan karyawan (employee
empowerment) merupakan trend pengelolaan sumber daya manusia di
dalam organisasi masa depan. Pemberdayaan karyawan dilakukan di dalam
orgainsasi perusahaan dengan fokus ke penyediaan produk dan jasa bagi customers.
Untuk kepuasan customer-lah pada dasarnya pemberdayaaan karyawan ini
ditujukan.
- Faktor-faktor yang mendasari pemberdayaan karyawan
- 1. Pergeseran teknologi yang digunakan oleh masyarakat di dalam memenuhi kebutuhan produk dan jasa (smart technology)
Menurut sifar dasarnya, snart
technologgy hanya produktif ditangan knowledge workers. Oleh karena
itu, hanya knowledge workers yang mampu menjadikan smart technology
produktif untuk menghasilkan produk dan jasa bagi customers. Smart
technology memiliki karakteristik untuk menyediakan shared database yang
memungkinkan information sharing diantara anggota organisasi baik secara
vertikal maupun horizontal serta antar perusahaan maupun antar perusahaan
dengan customer sehingga memudahkan manager bawah dan karyawan dalam
pengambilan keputusan. Karakteristik smart techologi tersebut memerlukan
pemberdayaan karyawan sebagai pendekatan pengelolaan sumber daya manusia yang
pas dengan teknologi tersebut. Dengan pemberdayaan karyawan memberikan
keleluasaan kepada knwoledge workers untuk mengakses pusat informasi
perusahaan sehingga memampukan mereka mengambil keputusan dalam mengambil
merespon dengan cepat perubahan kebutuhan customer.
- 2. Tipe pekerja yang pas dengan teknologi yang digunakan oleh masyarakat (knowledge workers)
Knowledge workers adalah pekerja yang
memiliki ketrampilan tinggi, disamping itu mereka mempunyai pengetahuan tinggi
yang diperoleh dari pendidikan formal dan kemampuan untuk belajar serta untuk
memperoleh tambahan pengetahun. Menurut fungsinya, knowledge workers adalah
orang yamng memanfaatkan pengetahuannya untuk menciptakan produk dan jasa bagi customer
perusahaan dengan menggunakan smart technology. Pekerjaan knowledge
workers lebih bersifat krestif sehingga tidak dapat disupervisi sebagaimana
yang diterapkan di dalam pengawasan terhadap pekerja yang mengoperasikan hard
autonation.
- Paradigma Pemberdayaan Karyawan
Pemberdayaan karyawan berarti memampukan
dan memberi kesempatan kepada karyawan untuk merencanakan, mengimplementasikan
rencana, dan mengendalikan implementasi rencana pekerjaan yang menjadi
tanggungjawabnya atau tanggungjawab kelompoknya
- Mindset Pemberdayaan Karyawan – Sudut Pandang Manager
Ditinjau dari susut pandang manajer,
pemberdayaan karyawan merupakan proses pemberian kesempatan kepada karyawan
untuk memampukan diri karyawan di dalam merencanakan dan mengendalikan
implementasi rencana pekerjaan yang menjadi tanggung jawab karyawan.
- Keyakinan Dasar Dalam Diri Manager Untuk Mewujudkan Paradigma Pemberdayaan Karyawan
Keyakina dasar yang perlu dimiliki
manager untuk mewujudkan mindset pemberdayaan karyawan adalah (1)
Karyawan adalah manusia, (2) Orang pada dasrnya adalah baik, (3) Birokrasi
membunuh inisiatif, (4) Tugas manager adalah menyediakan pelatihan, teknologi,
dan dukungan bagi karyawan.
- Nilai Dasar Dalam Diri Manajer Untuk Mewujudkan Paradigma Pemberdayaan Karyawan
Untuk mewujudkan paradigma pemberdayaan
karyawan, perlu ditanamkan personal values, dalam diri para manajer yang
pas dengan paradigma tersebut, yaitu : (1) Kejujuran, dan (2) Kerendahan hati.
- Mindset Pemberdayaan Karyawan – Sudut Pandang Karyawan
Dari sudut pandang karyawan,
pemberdayaan karyawan berkaitan dengan bagaimana karyawan dipercaya oleh
manajer untuk mengambil keputusan tentang pekerjaan yang menjadi tanggung jawab
karyawan, sehingga perlu dibangun keyakinan dasar dan nilai dasar dalam diri
karyawan.
- Keyakinan Dasar Dalam Diri Karyawan Untuk Memperoleh Kepercyaan Dari Manager
Dua keyakinan dasar yang perlu dibangun
dalam diri karyawan untuk memperoleh kepercayaan dari manager adalah :
- Pemberdayaan karyawan hanya akan terwujud berdasarkan kepercayaan yang tumbuh dalam diri manager terhadap karyawan
- Kepercayaan manger terhadap karyawan tumbuh karena kompetensi dan karakter yang dibangun dalam diri karyawan.
- Kepercayaan
Pemberdayaan karyawan hanya akan
terwujud jika karyawan dapat dipercaya oleh manager.
- Kompetensi Dan Karakter
Kompetensi dimiliki oleh karyawan jika
ia berkemampuan untuk mengunakan knowledge yang dimiliki sebagai sumber
daya yang khusus dimiliki oleh manusia.
- Nilai Dasar Dalam Diri Karyawan
Lima nilai dasar yang perlu dijunjung
tinggi oleh karyawan agar ia dapat dipercaya oleh manajer dan teman kerja lain
dalam tim kerja adalah : kejujuran, keberanian, integritas, mental berlimpah
dan kesabaran dalam mewujudkan visi.
Kejujuran, kemampuan orang
untuk mengatakan suatu kenyataan sebagaimana adanya. Kejujuran membutuhkan
keberaniian jiwa, karena seringkali suatu kenyataan jika diungkapkan
sebagaimana adanya mempunyai dampak yang tidak menguntungkan bagi pengungkap.
Keberanian, keteguhan hati
seorang dalam mempertahankan pendirian, keyakinan, prinsip, visinya. Keberanian
adalah keteguhan hati dalam mengambil posisi.
Integritas, kemampuan orang
unutk mewujudkan apa yang teah diucapkan atau janjikan oleh orang tersebut menjadi
suatu kenyataan.
Mental berlimpah (abundant mentality), kemampuan jiwa
seseorang dalam menerima keberhasilan, kelebihan, keberuntungan, penghargaan
yang diperoleh orang lain. Perwujudan nilai mental berlimpah antara lain:
- Ringan hati untuk memberikan selamat atas keberhasilan rekan sekerja
- Menghindarkan diri dari sikap merendahkan prestasi rekan sekerja
- Membiasakan diri melihat ”the bright side of everyone and everything”
Kesabaran, dalam mewujudkan
visi merupakan nilai yang perlu dijunjung tinggi oleh karyawan. Kejujuran
adalah kekuatan hati orang untuk menerima kelainan yang terjadi terhadap
dirinya dalam jangka waktu panjang.
PERWUJUDAN MINDSET PEMBERDAYAAN KARYAWAN
KE DALAM SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMRN
Mindset ini diwujudkan ke dalam dua
komponen sistem pengendalian manajemen: (1) struktur pengendalian manajemen,
(2) proses sistem pengendalian manajemen
Perwujudan Mindset Pemberdayaan Karyawan
Ke Dalam Struktur Sistem Pengendalian Manajemen
Mindset pemberdayaan karyawan diwujudkan
dalam struktur sistem pengendalian manaajemen berikut ini:
- Organisasi Masa Depan
Terdapat empat perubahan organisasi masa
depan yang dilandasi oleh mindset pemberdayaan karyawan:
(a) struktur organisasi menjadi datar
(b) kembalinya fungsi dasar organisasi
sebagai destabilizer
(c) deskripsi jabatan menjadi tidak
diperlukan
(d) berkembangnya jaringan organisasi
untuk memenuhi kebutuhan customers yang semakin kompleks.
- Pengelolaan Knowledge Workers
- subsidicrity dan peran manajer, tugas manajer dalam kondisi subsidicrity adalah memastikan bahwa individu atau kelompok:
- memiliki kompetensi dan karakter dalam melaksanakan tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka
- memahami visi yang akan dituju organisasi
- memiliki komitmen terhadap visi organisasi
- wewenang
- leadership from everybody
Perwujudan Mindset Pemberdayaan Karyawan
Ke Dalam Proses Sistem Pengendalian Manajemen
Mindsrt pemberdayaan karyawan diwujudkan
dalam proses sistem pengendalian manajemen berupa pergeseran pengelolaan dari financial
assets leverage ke human assets leverage.
Pergeseran Pengelolaan Dari Financial
Assets Leverage Ke Human Assets Leverage
Titik berat penekanan proses sistem
pengendalain manajemen perlu diarahkan ke human assets leverage untuk
menjadikan perusahaan mampu sebagai institusi pencipta kekayaan di lingkungan
bisnis global. Human assets leverage menekankan pada pentingnya perspektif
pembelajaran dan pertumbuhan ini dalam strategic objectives.
Komentar
Posting Komentar