KEABSAHAN SALAT ASWAJA
1.
Mengusap
Wajah dan Bersalaman Setelah Salat
Pertanyaan:
Benarkah
dalam kitab-kitab fikih tidak ada kesunahan mengusap wajah setelah Salat?
Bagaimana pula hukum bersalaman setelah Salat? Ahmad Arifin, Sby.
Jawaban:
Memang benar, dalam kitab-kitab fikih
Syaifiiyah tidak ada kesunahan tersebut. Namun, apa yang telah banyak dilakukan
oleh umat Islam tersebut berdasarkan sebuah hadis:
وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
أَنَّ النَّبِيَّ g كَانَ إِذَا صَلَّى
وَفَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ مَسَحَ بِيَمِيْنِهِ عَلَى رَأْسِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللهِ
الِّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّي
الْهَمَّ وَالْحَزَنَ وَفِي رِوَايَةٍ: مَسَحَ جَبْهَتَهُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى وَقَالَ
فِيْهَا "اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّي الْهَمَّ وَالْحَزَنَ" (رواه
الطبراني في الأوسط والبزار بنحوه بأسانيد وفيه زيد العمى وقد وثقه غير واحد وضعفه
الجمهور وبقية رجال أحد إسنادي الطبراني ثقات وفي بعضهم خلاف مجمع الزوائد 10/ 145)
"Diriwayatkan dari Anas bin Malik
bahwa Rasulullah Saw jika selesai dari salatnya, beliau mengusap kepalanya
(dalam riwayat lain keningnya/jabhat) dengan tangan kanannya dan berdoa
'Bismillahi alladzi Laa ilaaha illaa huwa ar-Rahmaanu ar-Rahiimu. Allahumma
adzhib 'anni al-hamma wa al-hazana (Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi
maha penyayang. Ya Allah hilangkan dari saya kesedihan dan kesusahan)"
Al-Hafidz
al-Haitsami berkata: HR ath-Thabrani dalam al-Ausath dan al-Bazzar. Sebagian
perawinya dinilai terpercaya dan dlaif, perawi lainnya terpercaya. Seandainya
pun hadis ini dlaif, maka sesuai kesepakatan ulama ahli hadis bahwa hadis dlaif
boleh diamalkan dalam keutamaan amal.
Sedangkan
bersalaman setelah salat berdasarkan hadis:
وَعَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ
خَرَجَ رَسُولُ اللهِ g بِالْهَاجِرَةِ
إِلَى الْبَطْحَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ، وَالْعَصْرَ
رَكْعَتَيْنِ، وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ ... وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يَأْخُذُونَ
يَدَيْهِ ، فَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ، قَالَ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ، فَوَضَعْتُهَا
عَلَى وَجْهِى، فَإِذَا هِىَ أَبْرَدُ مِنَ الثَّلْجِ، وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنَ الْمِسْكِ
(رواه أحمد والبخاري)
"Diriwayatkan dari Abu Juhaifah
bahwa Rasulullah Saw keluar dari pada siang hari yang sangat panas menuju
Bathha', kemudian berwudlu', salat Dzuhur 2 rakaat dan Ashar 2 rakaat dan
dihadapan beliau ada tongkat (sebagai sutrah/pembatas). Kemudian Rasulullah Saw
berdiri, dan orang-orang memegang tangan beliau (bersalaman) dan meletakkan
tangan beliau ke wajah mereka. Saya (Abu Juhaifah) juga melakukannya. Ternyata
tangan beliau lebih sejuk daripada salju dan lebih harum daripada minyak
misik" (HR al-Bukhari
No 3289 dan Ahmad No 18789. Dalam riwayat lain para sahabat bersalaman dengan
Rasulullah Saw setelah salat Subuh, HR Ahmad No 17513 dari Yazid bin Aswad)
Al-Hafidz
Ibnu Hajar mengutip pendapat para ulama:
قَالَ النَّوَوِيّ:
وَأَمَّا تَخْصِيصُ الْمُصَافَحَةِ بِمَا بَعْد صَلَاتَيْ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ
فَقَدْ مَثَّلَ اِبْنُ عَبْدِ السَّلَامِ فِي "الْقَوَاعِدِ" الْبِدْعَةَ
الْمُبَاحَةَ مِنْهَا. قَالَ النَّوَوِيّ: وَأَصْلُ الْمُصَافَحَة سُنَّةٌ،
وَكَوْنُهمْ حَافَظُوا عَلَيْهَا فِي بَعْضِ الْأَحْوَال لَا يُخْرِجُ ذَلِكَ عَنْ
أَصْلِ السُّنَّةِ (فتح الباري لابن حجر
- ج 17 / ص 498)
“An-Nawawi berkata:
Penentuan bersalaman setelah salat Subuh dan Ashar digolongkan oleh Ibnu
Abdissalam seabagai bid’ah yang diperbolehkan. An-Nawawi berkata: Pada dasarnya
bersalaman adalah sunah. Mereka melakukan salaman pada waktu-waktu tertentu
tidaklah sampai menyimpang dari sunah” (Fath al-Baari 17/498)
2.
Salat Sunah Berjamaah
Pertanyaan:
-
Bagaimana hukumnya
melakukan salat Witir secara berjamaah setelah Isya’? Hamba Allah, Sby.
-
Bolehkah salat Dluha
berjamaah dalam hukum fikih? Ir. Budin, Sby
Jawaban:
Pada dasarnya salat sunah ada dua, yaitu
(1) yang sunah berjemaah, seperti hari raya, tarawih dan sebagainya, ada pula
(2) yang tidak sunah berjamaah, seperti dluha, witir, tasbih dan lainnya. Namun
diperbolehkan melakukan secara berjemaah, berdasarkan hadis-hadis sahih.
Dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwa ia
menginap di rumah Maimunah (istri Nabi) bersama Nabi Muhammad. Di tengah malam
beliau bangun, berwudlu dan salat, Ibnu Abbas juga turut melakukan hal itu,
kemudian salat di sebelah belakang Rasulullah sebanyak 13 rakaat (HR al-Bukhari
4/163)
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:
وَفِيْهِ مَشْرُوْعِيَّةُ
الْجَمَاعَةِ فِي النَّافِلَةِ وَالِاِئْتِمَامُ بِمَنْ لَمْ يَنْوِ الْإِمَامَةَ
وَبَيَانُ مَوْقِفِ الْإِمَامِ وَالْمَأْمُوْمِ (فتح
الباري لابن حجر ج 3 / ص 421)
“Hadis ini adalah dalil disyariatkannya salat berjamaah dalam
salat sunah” (Fath al-Bari 3/421)
Sedangkan dalam riwayat sahih Muslim,
secara tegas Imam Muslim menulis Bab “Diperbolehkannya salat berjamaah dalam
salat sunah”. Kemudian beliau banyak menampilkan hadis, diantaranya:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ دَخَلَ
النَّبِىُّ g عَلَيْنَا وَمَا
هُوَ إِلاَّ أَنَا وَأُمِّى وَأُمُّ حَرَامٍ خَالَتِى فَقَالَ «قُوْمُوْا فَلأُصَلِّىَ
بِكُمْ». فِى غَيْرِ وَقْتِ صَلاَةٍ فَصَلَّى بِنَا. فَقَالَ رَجُلٌ لِثَابِتٍ
أَيْنَ جَعَلَ أَنَسًا مِنْهُ قَالَ جَعَلَهُ عَلَى يَمِيْنِهِ. ثُمَّ دَعَا لَنَا
أَهْلَ الْبَيْتِ بِكُلِّ خَيْرٍ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ فَقَالَتْ
أُمِّى يَا رَسُولَ اللهِ خُوَيْدِمُكَ ادْعُ اللهَ لَهُ. قَالَ فَدَعَا لِى
بِكُلِّ خَيْرٍ وَكَانَ فِى آخِرِ مَا دَعَا لِى بِهِ أَنْ قَالَ «اللَّهُمَّ
أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيهِ» (رواه
مسلم رقم 1533)
“Anas bin Malik berkata “Rasulullah datang kepada kami, yaitu
saya, ibu saya dan Ummi Haram bibi saya. Rasulullah bersabda: Bangunlah, saya
akan salat dengan kalian. (Anas berkata) Sementara saat itu bukan waktunya
salat (wajib).” (HR Muslim No 1533)
Namun harus diupayakan masyarakat memahami
bahwa salat sunah ini disyariatkan secara sediri-sendiri. Jika kemudian ada
anggapan bahwa salat sunah witir, dluha, tasbih dan sebagainya harus dilakukan
berjamaah, maka hukumnya diharamkan (Bughyat al-Mustarsyidin 137)
(مسألة : ب ك) : تُبَاحُ الْجَمَاعَةُ فِي نَحْوِ الْوِتْرِ وَالتَّسْبِيْحِ
فَلاَ كَرَاهَةَ فِي ذَلِكَ وَلاَ ثَوَابَ، نَعَمْ إِنْ قَصَدَ تَعْلِيْمَ الْمُصَلِّيْنَ
وَتَحْرِيْضَهُمْ كَانَ لَهُ ثَوَابٌ وَأَيُّ ثَوَابٍ بِالنِّيَّةِ الْحَسَنَةِ، فَكَمَا
يُبَاحُ الْجَهْرُ فِي مَوْضِعِ اْلإِسْرَارِ الَّذِي هُوَ مَكْرُوْهٌ لِلتَّعْلِيْمِ
فَأَوْلَى مَا أَصْلُهُ اْلإِبَاحَةُ وَكَمَا يُثَابُ فِي الْمُبَاحَاتِ إِذَا قُصِدَ
بِهَا الْقُرْبَةُ كَالتَّقَوِّي بِاْلأَكْلِ عَلَى الطَّاعَةِ، هَذَا إِذَا لَمْ
يَقْتَرِنْ بِذَلِكَ مَحْذُوْرٌ كَنَحْوِ إِيْذَاءٍ أَوِ اعْتِقَادِ الْعَامَّةِ مَشْرُوْعِيَّةَ
الْجَمَاعَةِ وَإِلاَّ فَلاَ ثَوَابَ بَلْ يَحْرُمُ وَيُمْنَعُ مِنْهَا (بغية
المسترشدين 1 / 137)
“Diperbolehkan
salat berjamaah dalam salat witir dan Tasbih, tidak makruh dan tidak dapat
pahala, kecuali jika bertujuan mengajarkan orang yang salat dan memberi
dorongan kepada mereka untuk melakukannya, maka mendapatkan pahala karena niat
yang baik. Hal ini sebagaimana mengeraskan bacaan salat saat waktu salat yang
lirih (Dzuhur-Ashar) yang hukumnya makruh karena mengajarkan, maka lebih utama
lagi yang asalnya adalah mubah (boleh), dan sebagaimana melakukan hal-hal yang
mubah mendapatkan pahala jika diniati ibadah seperti makan dengan tujuan untuk
melakukan ketaatan kepada Allah. Hukum ini selama tidak berdampak kepada yang
lain, misalnya menyakiti orang lain maupun adanya keyakinan orang awam bahwa
salat tersebut disyariatkan secara berjamaah. Kalau sampai mengarah seperti itu
maka tidak dapat pahala, bahkan diharamkan dan harus dicegah” (Bughyah
1/137)
Komentar
Posting Komentar