Pertanyaan:
Apakah benar dalam
tahiyatul akhir seperti ini: "Allahumma shalli ala saydina Muhammad wa ala
ali sayidina Muhammad, kama shallaita ala sayidina…" Tolong dijelaskan karena saya masih bingung. Terimakasih. Rusdin, Surabaya.
Jawaban:
Dalam tahiyat (atau shalawat)
yang diajarkan oleh
Rasulullah Saw memang tidak ada lafadz 'Sayidina'. Namun penambahan tersebut
bukan berarti tidak boleh.
Dalam
hadis-hadis sahih Rasulullah Saw mengaku bahwa beliau adalah sayid. Yaitu:
اَنَا سَيِّدُ وَلَدِ اَدَمَ وَلاَ فَخْرَ (رواه مسلم والترمذي)
“Saya adalah sayid (pemuka) putra Adam di hari kiamat, dan tidak
sombong”
(HR Muslim, Turmudzi dan lainya).
Dalam hadis Bukhari diriwayatkan bahwa
عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ
الزُّرَقِيِّ قَالَ كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ g فَلَمَّا
رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ قَالَ رَجُلٌ
وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ
فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ قَالَ أَنَا قَالَ رَأَيْتُ بِضْعَةً
وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ (رواه
البخاري 757)
"Seorang sahabat di
dalam salat menambah bacaan Rabbana wa laka al-hamdu… Selesai salat Nabi
bertanya: "Siapa yang mengucapkan kalimat tadi?" Orang itu menjawab:
"Saya". Nabi bersabda: "Saya melihat ada 30 malaikat lebih yang
bergegas mencatatnya" (HR
Bukari No 757)
Dari
hadis ini ahli hadis al Hafidz Ibnu Hajar berkata:
وَاسْتُدِلَّ
بِهِ عَلَى جَوَازِ إِحْدَاثِ ذِكْرٍ فِي الصَّلاَةِ غَيْرِ مَأْثُوْرٍ إِذَا كَانَ غَيْرَ مُخَالِفٍ لِلْمَأْثُوْرِ وَعَلَى جَوَازِ رَفْعِ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ
مَا لَمْ يُشَوِّشْ عَلَى مَنْ مَعَهُ (فتح الباري لابن حجر 2/287)
"Hadis ini menunjukkan diperbolehkannya menambah bacaan
yang tidak ada dalam salat, selama bacaan tersebut tidak bertentangan dengan
riwayat dari Nabi" (Fath al Bari II/287). Dan kita ketahui
kata 'Sayid' ada dalam hadis-hadis Nabi.
Dalil lainnya adalah bacaan syahadat dalam
tasyahhud oleh Ibnu Umar ditambah:
عَنْ مُجَاهِدٍ يُحَدِّثُ
عَنْ ابْنِ عُمَرَ (فِى التَّشَهُّدِ) أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
قَالَ ابْنُ عُمَرَ زِدْتُ فِيهَا وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ
أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ (رواه
أبو داود رقم 973)
"Dalam kalimat
Syahadat salat, Ibnu Umar berkata: Saya tambahkan bacaan Wahdahu la syarika
lahu…" (Abu Dawud 826.
Bahkan dinilai sahih oleh Albani)
Dengan demikian diperbolehkan menambah kata
'Sayidina' dalam tasyahhud sebagai bentuk menjaga etika kepada Rasulullah Saw
(Ianatut Thalibin I/197)
وَقَوْلُهُ:
وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ اْلاَوْلَى ذِكْرُ السِّيَادَةِ، ِلاَنَّ اْلاَفْضَلَ
سُلُوْكُ اْلاَدَبِ (حاشية
إعانة الطالبين 1 / 198)
Komentar
Posting Komentar